Pasar Surat Utang Negara (SUN) mengalami aksi jual pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, yang mengakhiri tren penguatan beberapa hari terakhir.

Data Bloomberg mencatat lonjakan imbal hasil atau yield pada sebagian besar tenor, dengan kenaikan tertinggi pada tenor 4 tahun sebesar 14,1 basis poin (bps) ke level 7,15 persen.

>>> KPK Serahkan Pengusutan Korupsi Makan Bergizi Gratis ke Kejaksaan Agung

Yield tenor acuan 10 tahun naik 7,8 bps menjadi 6,97 persen, sementara tenor pendek 2 dan 3 tahun masing-masing naik 2,4 dan 2,3 bps ke posisi 7,08 persen dan 7,02 persen.

Tenor menengah seperti 5 tahun juga naik 5,7 bps ke 6,98 persen, dan tenor 8 tahun meningkat 5,5 bps menjadi 7,07 persen.

Meskipun demikian, beberapa tenor panjang justru mencatat penurunan yield, menandakan investor belum sepenuhnya meninggalkan pasar obligasi domestik.

Tenor 40 tahun merosot 49,4 bps ke 6,9 persen, tenor 12 tahun turun 45,4 bps ke 7,08 persen, dan tenor 13 tahun turun 31,6 bps menjadi 7,16 persen.

Tekanan jual dipicu oleh sikap hawkish The Fed yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Prospek suku bunga AS yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama memicu lonjakan imbal hasil aset dolar, meningkatkan daya tarik investasi di AS dan menekan aliran modal ke negara berkembang.

>>> Kemendag Wajibkan Pedagang E-Commerce Miliki Nomor Induk Berusaha

Meski pasar mengantisipasi risiko pengetatan moneter AS, BlackRock Inc menilai obligasi kawasan Asia masih prospektif dan mampu memberikan diversifikasi portofolio.

Navin Saigal, Head of Global Fixed Income Asia Pacific BlackRock, mengatakan interpretasi hawkish terhadap rapat FOMC pertama yang dipimpin Gubernur Kevin Warsh kemungkinan akan memperkuat dolar AS dan menaikkan suku bunga di Asia.