Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai.

Kesepakatan ini berimplikasi pada rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman energi global.

>>> BGN Larang Pegawai Kelola Dapur Program Makan Bergizi Gratis

Pulihnya akses di jalur utama tersebut memberikan kepastian pasokan minyak yang lebih tinggi bagi pasar global.

Kondisi ini langsung memicu kemerosotan harga minyak dunia hingga menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir pada hari Selasa.

Minyak mentah Brent mencatat penurunan sebesar US$ 4,21 atau 5,1% menjadi US$ 78,96 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 atau 5,8% ke posisi US$ 76,05 per barel.

Penurunan ini menempatkan Brent pada level terendah sejak 2 Maret, sedangkan bagi WTI menjadi yang terendah sejak 4 Maret.

Sebelum konflik bersenjata antara AS dan Iran pecah pada 28 Februari, Brent berada di level US$ 72,48 per barel dan WTI pada US$ 67,02 per barel.

"Harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Reuters.

Peluang Penurunan Harga BBM Non-Subsidi

Penurunan harga komoditas global ini membuka peluang bagi pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kebijakan penyesuaian harga tersebut sangat bergantung pada pergerakan pasar internasional.

"Untuk BBM non-subsidi kita berbicara tidak hanya Pertamax, tapi juga produk BBM yang dijual oleh badan usaha swasta juga.

>>> Euforia Piala Dunia 2026 Juga Terasa di Australia