Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan sementara dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Penandatanganan berlangsung di Istana Versailles, Perancis, pada Rabu (17/6/2026) setelah jamuan makan malam bersama Presiden Emmanuel Macron.

>>> Trump: Negara G7 Siap Terlibat dalam Pengamanan Selat Hormuz

Langkah diplomatik ini diambil untuk mengakhiri konflik selama tiga bulan sekaligus mencegah potensi depresi ekonomi internasional. Dokumen kesepakatan tersebut ditandatangani secara resmi di hadapan para pejabat tinggi.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah menandatangani draf secara digital pada Minggu (14/6/2026).

Kesepakatan ini mewajibkan pembukaan kembali Selat Hormuz secepatnya guna mengatasi lonjakan harga energi global akibat blokade.

Sebagai imbalan, Washington memberikan keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Selain itu, dibuka kemungkinan pengembalian aset-aset Teheran yang selama ini dibekukan.

>>> Investor Global Antre Beli Saham Merdeka Gold Resources

Respons Pasar dan Kritik Internal

Pasar energi dunia langsung merespons positif kesepakatan ini. Harga minyak mentah Brent turun hingga di bawah 80 dolar AS per barel.

Memorandum juga memuat rencana program pembangunan Iran senilai 300 miliar dolar AS. Dana tersebut tidak bersumber dari anggaran pemerintah Amerika Serikat.

Kendati demikian, kebijakan ini menuai kritik tajam dari internal Partai Republik. Senator Ted Cruz dan Lindsey Graham menilai pemberian keringanan ekonomi ini keliru.

Mantan Wakil Presiden Mike Pence menyayangkan tidak adanya pembongkaran program nuklir secara terverifikasi.

>>> Wamenhut: Pembiayaan Inovatif Harus dalam Kerangka Konservasi

Sejumlah isu krusial seperti cadangan uranium tingkat tinggi dan program rudal balistik Iran akan dibahas dalam perundingan lanjutan selama 60 hari ke depan.