Pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan masih membutuhkan waktu cukup lama meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut.

Pelaku industri maritim global dinilai masih akan sangat berhati-hati sebelum memutuskan untuk kembali melintasi Selat Hormuz.

>>> Harga Perak Antam 18 Juni 2026 Turun Tajam ke Rp 45.750 per Gram

Hal ini disampaikan oleh CEO Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, berdasarkan laporan Financial Times. Menurutnya, para operator kapal sangat membutuhkan kepastian nyata mengenai perbaikan kondisi keamanan di lapangan.

Kepercayaan pelaku industri tidak bisa pulih begitu saja hanya dengan mengandalkan kesepakatan politik.

Faktor utama yang menentukan kelancaran lalu lintas kapal adalah implementasi nyata dan stabilitas keamanan di kawasan.

Tamura memproyeksikan proses normalisasi tidak akan selesai dalam hitungan hari akibat hambatan beberapa bulan terakhir.

"Aktivitas pelayaran diperkirakan memerlukan waktu beberapa pekan hingga sekitar satu bulan," kata Jotaro Tamura.

Selat Hormuz memegang peran krusial sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.

Jalur ini mengalirkan lebih dari 20 persen pasokan minyak bumi global serta pengiriman gas alam cair (LNG) sebelum konflik terjadi.

Perairan strategis ini juga menjadi rute utama bagi distribusi berbagai komoditas dan barang konsumsi menuju negara-negara di kawasan Teluk.

Sebelum ketegangan memuncak, ada sekitar 135 kapal yang melintas setiap hari di perairan ini. Namun, jumlah armada yang beroperasi merosot tajam sejak konflik memanas.

Mitsui OSK Lines sendiri mengoperasikan lebih dari 900 kapal di seluruh dunia, termasuk ratusan kapal tanker pengangkut minyak mentah dan bahan kimia.

Perusahaan tersebut sempat memindahkan empat kapalnya keluar dari kawasan Teluk menjelang tercapainya kesepakatan diplomasi.