Kementerian Agama membantah keras tuduhan yang menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar menyamakan pemerintah dengan Firaun.

Bantahan ini menyusul potongan pernyataan Menag yang viral dan memicu tafsir keliru di ruang publik.

>>> BYD M6 DM Siap Guncang Pasar Mobil Hybrid Indonesia dengan Harga Mulai Rp 298 Juta

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa konteks asli pernyataan tersebut merupakan ajakan untuk mengedepankan kesantunan saat menyampaikan kritik.

Pihak kementerian menyayangkan hilangnya frasa penutup yang krusial dari pemberitaan.

"Saya sudah mendengarkan rekaman pernyataan Menag saat ditanya media di Makassar. Dalam rekaman itu tegas disebutkan bahwa Menag menutup pernyataan dengan kalimat ‘apalagi kalau orang itu bukan Fir’aun’.

Frasa ini yang tidak dituliskan dalam banyak narasi dan berita," kata Kamaruddin Amin.

Kamaruddin Amin menambahkan bahwa Menag mengambil keteladanan dari kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang tetap diperintahkan menggunakan bahasa lembut ketika menghadapi Firaun.

Pemotongan bagian penutup pesan tersebut dinilai telah mendistorsi substansi etika komunikasi.

"Ini bukan berarti Menag menyamakan pemerintah dengan Fir’aun. Menag menegaskan bahwa orang seperti Firaun pun perlu diberikan bahasa santun.

Lalu Menag melanjutkan dengan menegaskan, apalagi kalau orang yang akan diberi nasihat atau aspirasi itu bukan Fir’aun," tegas Kamaruddin Amin.

Pernyataan Menag tersebut awalnya disampaikan untuk merespons pertanyaan wartawan mengenai aksi demonstrasi mahasiswa di Makassar pada 14 Juni 2026.

Menag mengimbau agar penyampaian gagasan di ruang publik tetap menjaga akhlakul karimah.

"Tentu (kita) punya kepentingan untuk mengingatkan kepada warga masyarakat, terutama umat beragama. Mari kita tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam melakukan komunikasi," ujar Nasaruddin Umar.