>>> Wamenekraf dorong pemasaran IP lokal lewat kolaborasi lintas sektor

Nasaruddin Umar juga menekankan pentingnya keselarasan antara tujuan yang baik dengan cara penyampaian yang baik. Hal ini agar tidak menimbulkan dampak negatif yang kontraproduktif bagi masyarakat luas.

"Ya, jadi jangan sampai nanti kita melakukan suatu tujuan yang baik, tapi melalui cara-cara yang kurang baik, akhirnya kontraproduktif.

Mari kita mencontoh Nabi. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk, tapi tidak menjelekkan...

sampai ada ayatnya," lanjut Nasaruddin Umar.

Kisah sejarah keagamaan mengenai perintah berbicara secara santun atau qaulan layyinan kepada penguasa yang zalim dijadikan rujukan utama oleh Menag.

Hal ini sebagai landasan moral dalam berpendapat secara bijak.

"Ya, Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Fir’aun, itu juga ditegaskan untuk menggunakan qaulan layyinan, bahasa yang santun terhadap Fir’aun.

Jadi, orang seperti Fir’aun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Apalagi kalau orang itu bukan Firaun," kata Nasaruddin Umar.

Pada bagian akhir penjelasannya, pihak kementerian mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh peredaran potongan informasi yang tidak lengkap.

Hal ini demi menjaga situasi tetap kondusif.

>>> Rebel Wolves dan Bandai Namco Rilis Game The Blood of Dawnwalker September 2026

"Mari hindari memotong kalimat hanya untuk memancing emosi dan memunculkan kesalahpahaman. Mari jauhi upaya adu domba dan tetap jaga persatuan bangsa," ajak Kamaruddin Amin.