>>> G7 Luncurkan Aliansi Mineral Kritis untuk Kurangi Ketergantungan pada China

Median perkiraan suku bunga The Fed pada akhir 2026 merangkak naik menjadi 3,8 persen dari proyeksi Maret yang sebesar 3,4 persen.

Kenaikan median ini memperlihatkan sebagian anggota Federal Open Market Committee atau FOMC menganggap pengetatan kebijakan moneter masih diperlukan.

Situasi ketidakpastian pasar semakin meninggi lantaran Kevin Warsh memilih tidak mengumpulkan proyeksi suku bunga pribadinya.

Langkah Ketua The Fed baru tersebut memicu beragam spekulasi di kalangan investor mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Dampak dari keputusan ini langsung terlihat nyata pada pasar surat utang negara.

Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun melonjak lebih dari 16 basis poin hingga menyentuh level 4,216 persen setelah pengumuman.

Perubahan peta ekonomi ini memicu reaksi keras dari para analis.

"Reaksi pasar saat ini sebagian besar dipicu oleh dot plot yang jauh lebih hawkish.

Arah angin telah berubah cukup besar dalam prospek inflasi," ujar Kepala Ekonom New Century Advisors Claudia Sahm.

Penilaian senada juga diutarakan oleh CEO DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach. Ia menyoroti bahwa Warsh berulang kali menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga selama sesi konferensi pers.

"Dia (Warsh) jelas ingin memastikan stabilitas harga.

Ini berarti kebijakan moneter tidak akan semudah yang diperkirakan banyak pihak pada awal tahun ketika pasar masih berharap pemangkasan suku bunga," kata Gundlach.

>>> Antonio Rudiger Santai Hadapi Kritik Perilaku Agresif di Lapangan

Pernyataan tersebut sekaligus menutup rangkaian sentimen yang membuat pelaku pasar kini bersikap jauh lebih waspada terhadap instrumen berisiko.