Indeks saham di Wall Street mengalami kejatuhan signifikan pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Kondisi ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Guncangan pasar modal ini dipicu oleh respons investor terhadap hasil rapat perdana bank sentral AS atau The Fed.

>>> Menkeu Purbaya Temui Menkeu China Perkuat Akses Pembiayaan

Pertemuan tersebut dipimpin oleh Ketua baru Kevin Warsh yang dinilai bersikap lebih hawkish dari perkiraan.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 507,12 poin atau 0,98 persen ke posisi 51.492,55.

Padahal, indeks ini sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa intraday baru sebelum akhirnya ditutup melemah.

Tren penurunan juga melanda indeks S&P 500 yang terkoreksi sebesar 1,21 persen menjadi 7.420,10.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite ambles 1,34 persen dan berakhir pada level 26.021,66.

Sektor teknologi berkapitalisasi besar menjadi faktor utama yang memberatkan pergerakan pasar. Saham Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon seluruhnya terpantau finis di zona merah.

Tekanan terhadap sentimen pasar kian bertambah seiring melemahnya saham SpaceX. Koreksi ini menjadi penurunan pertama bagi perusahaan tersebut sejak melantai di bursa pada pekan lalu.

Di lain sisi, kinerja positif saham sektor semikonduktor berhasil menahan kejatuhan indeks utama agar tidak merosot lebih dalam.

Saham Intel dan Micron Technology tercatat mengalami penguatan.

Sikap The Fed dan Reaksi Pasar

The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen sesuai ekspektasi.

Namun, perhatian pelaku pasar justru tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru atau dot plot para pejabat bank sentral.

Dokumen dot plot tersebut mengindikasikan adanya peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini demi meredam inflasi.