Rivian memutuskan hubungan kerja dengan ratusan karyawan di tim penjualan dan layanan, hanya beberapa hari setelah meluncurkan model terbarunya, R2.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi pada Selasa lalu.

>>> Harga BBM Naik 27%, Namun Rekor Baru Pengendara AS Diprediksi Terjadi saat 4 Juli

Seorang juru bicara perusahaan menyebut jumlahnya kurang dari 2 persen dari total tenaga kerja yang mencapai sekitar 15.200 orang pada akhir 2025.

PHK ini difokuskan pada organisasi layanan dan pelanggan, termasuk fungsi penjualan dan pemasaran.

Langkah tersebut mungkin tampak aneh mengingat upaya merek memperluas jaringan servis, namun waktu dan posisi yang terdampak menjadi kunci.

Antusiasme terhadap peluncuran R2 memang nyata, meskipun opsi sewanya tergolong mahal. Menurut CBT News, sekitar setengah pembeli memilih menyewa R2 daripada membelinya.

Karyawan yang terkena PHK didorong untuk melamar posisi lain yang masih tersedia di perusahaan. Sementara itu, langkah ini memungkinkan Rivian menghemat uang dan semakin mendekati profitabilitas jangka panjang.

>>> HSV Colorado SportsCat V8: Prototipe V8 yang Tak Jadi Produksi Kini Dijual

Rivian belum pernah mencatat laba tahunan sejak didirikan pada 2009.

Tahun lalu, perusahaan membukukan pendapatan sekitar US$5,4 miliar dengan menjual sekitar 42.000 kendaraan, tetapi belum cukup untuk menutup biaya.

R2 dianggap sebagai peluang terbaik Rivian untuk mengubah situasi tersebut.

Untuk saat ini, Rivian tampaknya mengambil kalkulasi khas Silicon Valley: memotong biaya hari ini demi menjaga kas untuk masa depan.

>>> Jeremy Clarkson Umumkan Diagnosis Kanker Prostat Agresif

Apakah R2 akan menjadi produk terobosan yang akhirnya memvalidasi strategi itu, masih menjadi pertanyaan yang menggantung di seluruh perusahaan.