Pengendara kendaraan listrik tidak perlu khawatir mengalami kendala fatal di tengah jalan. Setiap mobil listrik telah dibekali sistem pengaman berlapis yang mengacu pada regulasi internasional.

Penerapan teknologi keselamatan terintegrasi ini bertujuan meminimalkan risiko kerusakan parah dan menghindari insiden kecelakaan. Sistem elektronik kendaraan modern kini mengadopsi fitur fail safe sebagai bagian dari keselamatan fungsional.

>>> Kemnaker Mulai Cairkan Uang Saku Magang Nasional Batch III

Founder EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar, menjelaskan bahwa sistem kendaraan akan menjalankan strategi khusus untuk mengurangi atau mengeliminasi potensi cedera.

Mekanisme fail safe bekerja secara otomatis dengan menyesuaikan jenis risiko yang dideteksi komputer mobil.

"Fail safe pada mobil adalah mode keselamatan otomatis yang diaktifkan komputer mobil saat mendeteksi kerusakan serius. Sistem ini dirancang mencegah kerusakan komponen lebih parah atau kecelakaan.

Di Indonesia, kondisi ini dikenal dengan istilah Limp Mode.

Dalam Limp Mode, mobil masih bisa dikendarai dengan performa terbatas dari sisi kecepatan dan akselerasi, sehingga pengemudi dapat mengarahkan mobil ke tempat aman dan berhenti," jelas Gofar.

Isu keandalan sistem proteksi kendaraan listrik kembali mencuat setelah kecelakaan antara taksi listrik dan KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur.

Namun, KNKT memastikan tidak ada indikasi kegagalan sistem pada mobil listrik sebelum tabrakan.

Hasil investigasi membuktikan teknologi pengaman kendaraan listrik mampu bekerja optimal. Sistem bawaan dirancang sensitif mendeteksi keanehan, memicu alarm peringatan dini bagi pengemudi, hingga mengaktifkan mode perlindungan darurat.

Gofar menambahkan, aspek mitigasi risiko mewajibkan adanya indikator malfungsi agar pengguna memiliki waktu menyelamatkan diri dan kendaraannya. Penanda tersebut umumnya berupa lampu peringatan visual pada panel instrumen.