Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni ini.

Proyeksi ini muncul setelah BI melakukan pengetatan moneter agresif dengan menaikkan BI-Rate sebesar 75 basis poin (bps) secara kumulatif dalam waktu singkat.

>>> KPK: Pemanggilan Anggota BPK Bobby Rizaldi Tergantung Kebutuhan

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan bahwa pengetatan tersebut sudah cukup signifikan, sehingga BI diperkirakan akan menahan suku bunga pada RDG Juni.

BI sebelumnya menaikkan BI-Rate 50 bps pada RDG 19-20 Mei 2026, lalu kembali menaikkan 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 di luar jadwal reguler.

Langkah tambahan juga ditempuh BI, termasuk menaikkan imbal hasil instrumen SRBI untuk menarik arus masuk modal. Riefky menilai kebijakan ini membantu menstabilkan pasar keuangan.

Rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.700 per dolar AS pada 12 Juni.

Namun, pasar obligasi pemerintah dan pasar saham masih mencatat arus keluar bersih masing-masing 0,18 miliar dolar AS dan 0,19 miliar dolar AS pada 9-12 Juni.

Di pasar obligasi, kurva imbal hasil sempat kembali normal setelah kenaikan suku bunga, dengan yield obligasi tenor 10 tahun kembali di atas tenor 1 tahun pada 9 Juni.

Menurut Riefky, pemulihan di kedua pasar didorong utamanya oleh investor domestik. Di pasar saham, bank BUMN melakukan buyback saham, sementara investor domestik mengakumulasi saham setelah IHSG terkoreksi.

Sementara di pasar obligasi, arus keluar investor asing sebagian terkompensasi oleh arus masuk ke SRBI seiring kenaikan imbal hasil yang membantu menahan tekanan depresiasi rupiah.