Chief Economist Bank Permata Josua Pardede juga berpandangan serupa.

Menurutnya, BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga lagi karena rupiah sudah menguat, harga minyak turun, dan tekanan pasar mereda.

>>> Susunan Pemain Uzbekistan vs Kolombia: Khusanov dan Diaz Starter

Josua mencatat perbaikan arus modal asing sudah terlihat, meski belum cukup kuat karena masih bertumpu pada SRBI, sementara pasar saham masih mencatat arus keluar besar dan pasar SBN belum pulih sepenuhnya.

Ia menekankan bahwa penguatan rupiah saat ini masih ditopang oleh kenaikan suku bunga, instrumen moneter jangka pendek, dan perbaikan sentimen global, bukan oleh pemulihan kepercayaan investor jangka panjang.

Agar penguatan rupiah lebih berkelanjutan, arus modal asing perlu meluas dari SRBI ke SBN dan pasar saham.

Jika investor asing kembali membeli SBN tenor menengah-panjang dan tekanan jual mereda, kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia akan pulih.

Sebaliknya, jika arus masuk hanya terkonsentrasi pada SRBI, penguatan rupiah berpotensi sementara dan rentan terhadap kejutan dari bank sentral AS, pergerakan harga minyak, atau perubahan kebijakan domestik.

Setelah kenaikan BI-Rate 75 bps, Josua memperkirakan rupiah akan lebih stabil dan bergerak di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam jangka pendek.

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto juga menilai kenaikan BI-Rate belum diperlukan karena tekanan nilai tukar mulai mereda, inflasi domestik terkendali, dan harga minyak dunia menurun.

Ia melihat potensi inflow ke pasar keuangan domestik meningkat seiring membaiknya iklim investasi global, yang diharapkan mendorong investor asing kembali masuk ke pasar domestik.

Myrdal mengingatkan bahwa penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada arus modal asing, tetapi juga pada peningkatan investasi asing langsung (FDI).

>>> PIHPS: Harga Cabai Rawit Rp65.000/kg, Telur Ayam Rp25.000/kg

Pemerintah perlu memastikan eksekusi yang baik dan memperkuat komunikasi prospek investasi domestik.