Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mencatat penurunan signifikan menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN tenor 10 tahun pada 17 Juni 2026 berada di level 6,84%.

>>> OJK Imbau Investor Saham Tetap Bijak Jelang Pengumuman Indeks MSCI

Angka tersebut turun dibandingkan hari sebelumnya yang sempat menyentuh 6,98%. Pada pekan lalu, imbal hasil bahkan sempat berada di kisaran 7,5%.

Pergerakan Yield Obligasi Global

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, mengungkapkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru naik tipis menjadi 4,46% dari sebelumnya 4,44% pada Rabu (17/6/2026).

Pergerakan ini terjadi setelah proyeksi FOMC terbaru menunjukkan hampir separuh pembuat kebijakan masih memperkirakan minimal satu kali kenaikan suku bunga pada 2026.

>>> Liverpool Aktifkan Klausul Pelepasan Victor Munoz dari Osasuna

Hal tersebut mencerminkan revisi ke atas pada inflasi inti serta ekspektasi tingkat pengangguran yang lebih rendah.

Penguatan di pasar obligasi menjelang keputusan BI didukung oleh membaiknya sentimen di pasar obligasi pemerintah.

"Ke depan, investor diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik bersamaan dengan rilis keputusan suku bunga BI sebagai pendorong utama arah pasar jangka pendek," ujar Fikri dalam risetnya, Kamis (18/6/2026).

>>> Meksiko vs Korea Selatan: Perebutan Tiket Fase Gugur Piala Dunia 2026

Fikri memproyeksikan akan ada sedikit peningkatan yield SBN tenor 10 tahun pada hari ini (18 Juni 2026) yang bergerak di kisaran 6,80% sampai 7,00%.