PT Pertamina Patra Niaga (PPN) membuka peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 92 Pertamax. Hal ini seiring melandainya harga minyak mentah dunia.

Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun mengatakan harga BBM nonsubsidi dievaluasi secara berkala setiap bulan. Evaluasi didasarkan pada perkembangan parameter keekonomian.

>>> Kejaksaan Agung Periksa Sony Sonjaya Terkait Korupsi Makan Bergizi Gratis

"Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian.

Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," kata Roberth dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).

Pertamax merupakan produk nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti fluktuasi pasar global. Sebelumnya, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026.

Meski naik 32 persen, penyesuaian tersebut baru mencakup sekitar 50 persen dari selisih harga keekonomian.

PPN sebelumnya menahan harga saat konflik Timur Tengah mendorong minyak dunia di atas US$100 per barel.

Dorongan penurunan harga datang dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas).

>>> 5 Seconds of Summer Tambah Jadwal Konser di Jakarta Arena

Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal menilai ruang penurunan terbuka setelah minyak dunia di bawah US$80 per barel.

"Nah sekarang sudah enggak ada alasan lagi untuk harga naik, kita lihat ya Pertamina sekarang dituntut untuk turun dong, lah harga kan minyak sudah sudah turun.

Nah sekarang enggak ada alasan lagi untuk naik," kata Moshe, Kamis (18/6/2026).

Penurunan harga minyak dipicu kesepakatan damai sementara AS dan Iran yang ditandatangani secara digital.

Pakta ini berpotensi membuka blokade ganda di Selat Hormuz, jalur transportasi seperlima pasokan minyak dunia.

West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 1 persen ke US$76,02 per barel pada Kamis.

>>> PN Jakarta Pusat Eksekusi Pengosongan Lahan Hotel Sultan

Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus ditutup naik 0,8 persen ke US$79,55 per barel pada Rabu.