Misteri prediksi cuaca antariksa ekstrem mulai terkuak.

Sebuah studi terbaru berhasil mendeteksi aktivitas tidak biasa di atmosfer Matahari beberapa jam sebelum suar surya kelas X9 meletus.

>>> IHSG Ambles Lebih 1 Persen Menjelang Pengumuman RDG Bank Indonesia

Penemuan ini bersumber dari pengamatan terhadap ledakan besar pada 3 Oktober 2024.

Tim peneliti menangkap sinyal awal yang selama ini luput dari perhatian setelah menganalisis data lima jam pra-ledakan.

Riset yang dipimpin Louis Seyfritz dari New Jersey Institute of Technology ini menggunakan data dari wahana antariksa Interface Region Imaging Spectrograph milik NASA.

Satelit tersebut kebetulan sedang memantau wilayah aktif yang sama.

Seyfritz menjelaskan bahwa karakteristik plasma di atmosfer Matahari mulai menunjukkan perilaku aneh sekitar tiga jam sebelum suar meletus.

"Kami melihat peningkatan kecerahan, turbulensi, dan pergerakan plasma jauh sebelum suar meletus," ungkapnya.

Pola Osilasi Plasma Menjadi Temuan Signifikan

Pola osilasi atau denyut aktivitas plasma yang berulang secara teratur menjadi salah satu temuan paling signifikan. Fluktuasi tersebut terdeteksi pada area pertemuan medan magnet yang berlawanan.

>>> Indonesia Dorong Integrasi Ekonomi ASEAN-Rusia di KTT Kazan

Para peneliti menduga pola ini merupakan gelombang atmosfer Matahari atau serangkaian rekoneksi magnetik kecil. Proses terputus dan menyambungnya garis medan magnet ini melepaskan energi sebelum memicu ledakan utama.

Suar surya sendiri merupakan ledakan energi magnetik yang dapat memicu badai geomagnetik di Bumi.

Dampak fenomena ini meliputi gangguan komunikasi radio, kerusakan satelit, hingga risiko kegagalan jaringan listrik global.

Meskipun menjanjikan, para ilmuwan memberikan catatan bahwa hasil ini baru didasarkan pada satu peristiwa suar surya tunggal.

Data dari berbagai letusan besar lainnya masih diperlukan untuk memastikan konsistensi pola osilasi tersebut.

Jika terbukti konsisten, pola ini dapat menjadi fondasi kuat untuk sistem prakiraan cuaca antariksa yang lebih akurat.

Hal ini memberikan waktu mitigasi bagi operator satelit dan penyedia infrastruktur listrik di Bumi.

>>> BNPB: Sulteng Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Magnitudo 6,7

"Jika pola osilasi ini terus muncul sebelum suar surya lainnya, itu bisa menjadi indikator kuat bahwa sebuah letusan besar akan segera terjadi," kata Seyfritz.