Upaya memperkenalkan kecerdasan buatan (AI) dan berpikir komputasional kepada anak usia dini harus dibarengi dengan peningkatan kualitas guru PAUD.

Sebagian besar tenaga pendidik PAUD di Indonesia masih belum memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

>>> Tips Lolos Final Test Beasiswa OSC 2026 dari Medcom

Ketua Umum Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI) Trubus Rahardiansah menilai pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kreativitas, keberanian, hingga kemampuan berinovasi anak.

Karena itu, kualitas pendidikan PAUD tidak boleh diabaikan.

"Sesungguhnya di sinilah nanti akan muncul anak-anak yang memiliki keberanian, prestasi, inovasi, dan kreativitas.

Itu semuanya berasal dari PAUD ini, sehingga pendidikan PAUD menjadi sangat-sangat strategis," kata Trubus dalam diskusi FKPI di Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.

Menurut Guru Besar Trisakti itu, perkembangan teknologi menuju era Society 5.0 membuat anak-anak PAUD perlu mulai diperkenalkan dengan AI dan digitalisasi sejak dini.

Pengenalan tersebut bukan untuk menjadikan anak bergantung pada teknologi, melainkan agar mereka memahami perkembangan dunia yang akan mereka hadapi di masa depan.

"Anak-anak PAUD harus tahu bahwa perkembangan ke depan Indonesia adalah berkembang melalui AI," ujarnya.

Namun, pengenalan AI dan kemampuan berpikir komputasional dinilai sulit dilakukan jika kapasitas guru tidak diperkuat terlebih dahulu.

Pakar pendidikan anak usia dini Irma Yuliantina mengungkapkan kualitas sumber daya manusia di sektor PAUD masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dosen PAUD Universitas Panca Sakti itu memaparkan bahwa kompetensi yang dimiliki guru PAUD masih kurang mumpuni.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, guru yang memiliki kualifikasi S1 PAUD hanya sekitar 13 persen.

"Guru-guru kita yang S1 PAUD itu hanya 13 persen. Selebihnya sekitar 50 persen non-S1 dan non-PAUD, bahkan ada yang belum S1," ungkap Irma.