Upaya memperkenalkan kecerdasan buatan (AI) dan berpikir komputasional kepada anak usia dini harus dibarengi dengan peningkatan kualitas guru PAUD.

Sebab, sebagian besar tenaga pendidik PAUD di Indonesia belum memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

>>> Israel Ambil Alih Kendali Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat

Ketua Umum Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI) Trubus Rahardiansah menilai pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kreativitas, dan inovasi anak.

Menurutnya, kualitas pendidikan PAUD tidak boleh diabaikan.

"Sesungguhnya di sinilah nanti akan muncul anak-anak yang memiliki keberanian, prestasi, inovasi, dan kreativitas.

Itu semuanya berasal dari PAUD ini, sehingga pendidikan PAUD menjadi sangat-sangat strategis," kata Trubus dalam diskusi FKPI di Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.

Guru Besar Trisakti itu menambahkan, perkembangan teknologi menuju era Society 5.0 membuat anak-anak PAUD perlu mulai diperkenalkan dengan AI dan digitalisasi sejak dini.

Pengenalan tersebut bukan untuk membuat anak bergantung pada teknologi, melainkan agar mereka memahami perkembangan dunia di masa depan.

"Anak-anak PAUD harus tahu bahwa perkembangan ke depan Indonesia adalah berkembang melalui AI," ujarnya.

Namun, pengenalan AI dan kemampuan berpikir komputasional sulit dilakukan jika kapasitas guru tidak diperkuat terlebih dahulu.

Pakar pendidikan anak usia dini Irma Yuliantina mengungkapkan kualitas sumber daya manusia di sektor PAUD masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dosen PAUD Universitas Panca Sakti itu memaparkan data bahwa guru yang memiliki kualifikasi S1 PAUD hanya sekitar 13 persen.

"Guru-guru kita yang S1 PAUD itu hanya 13 persen. Selebihnya sekitar 50 persen non-S1 dan non-PAUD, bahkan ada yang belum S1," ungkap Irma.