Klaim asuransi properti di Indonesia melonjak signifikan sebesar 34,7 persen secara tahunan menjadi Rp2,64 triliun per Maret 2026.

Lonjakan ini dipicu oleh maraknya penutupan korporasi di dalam negeri.

>>> Inggris Hancurkan Kroasia 4-2 di Laga Perdana Grup L Piala Dunia 2026

Data tersebut dirilis oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) pada Rabu (18/6/2026). Sektor korporasi selama ini menjadi kontributor premi terbesar dalam lini asuransi properti.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan bahwa kemunduran sektor industri manufaktur menjadi pemicu utama. "Korporasi itu menurunnya signifikan (jumlah).

Beberapa pabrik tekstil hingga plat besi itu banyak yang tutup," ujarnya.

Menurut Budi, kesulitan penjualan produk akibat pemblokiran jalur dagang internasional membuat operasional korporasi terhenti. Ia memprediksi situasi ini bisa berlangsung 2-3 bulan jika perjanjian dagang segera ditandatangani.

>>> Roberto Martinez Tolak Cadangkan Cristiano Ronaldo Usai Portugal Ditahan Imbang RD Kongo

AAUI memastikan bahwa faktor cuaca buruk dan bencana alam di Sumatra akhir tahun lalu tidak memengaruhi neraca klaim properti secara luas.

"Itu tak terlalu signifikan," kata Budi.

Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi menambahkan bahwa dampak bencana alam hanya bersifat lokal.

Dampak tersebut hanya dirasakan korporasi yang memiliki keterikatan kredit perbankan di daerah terdampak.

>>> Spooky in Love Tayang Juli 2026, Park Eun Bin dan Yang Se Jong Hadirkan Romansa Dunia Gaib

Meskipun klaim melonjak, pertumbuhan premi asuransi properti masih positif sebesar 6,5 persen secara tahunan. Total akumulasi premi properti mencapai Rp8,31 triliun per Maret 2026.