Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membuka peluang untuk merevisi target pertumbuhan premi industri asuransi umum tahun 2026.

Langkah ini diambil menyusul perlambatan bisnis dan ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi kinerja sektor.

>>> Cara Membuat SIM Digital Lewat HP di Aplikasi Digital Korlantas

Produksi premi pada kuartal I-2026 hanya tumbuh 1,92 persen secara tahunan menjadi Rp31,11 triliun.

Angka tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.

Perlambatan industri dipicu oleh terbatasnya kinerja tiga lini bisnis utama, yaitu properti, kendaraan bermotor, dan kredit.

Premi asuransi properti tercatat Rp8,31 triliun, premi kendaraan bermotor Rp5,39 triliun, dan premi asuransi kredit sebesar Rp4,10 triliun.

Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI Heri Supriyadi menjelaskan bahwa peningkatan risiko kredit bermasalah membuat perusahaan asuransi lebih selektif dalam menerima bisnis baru.

Tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian global.

>>> Meta Batasi Birokrasi dan Tambah Anggaran demi Dongkrak Semangat Karyawan

Di sisi lain, AAUI tetap optimistis terhadap rencana pemerintah melakukan konsolidasi perusahaan asuransi BUMN melalui Danantara Indonesia.

Upaya penataan ini diproyeksikan mampu meningkatkan kualitas industri serta membangun entitas bisnis yang lebih kompetitif.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan memaparkan bahwa pelaku industri saat ini berkewajiban memenuhi ketentuan modal minimum baru dan menerapkan standar akuntansi terkini.

Situasi tersebut menuntut perusahaan asuransi untuk terus memperkuat struktur permodalan secara mandiri melalui pemacuan pertumbuhan bisnis.

Tantangan eksternal berupa dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memicu pelaku usaha menunda agenda ekspansi.

Evaluasi menyeluruh terhadap target pertumbuhan premi awal sebesar 3-6 persen akan diputuskan setelah AAUI meninjau pencapaian industri pada kuartal II-2026.

>>> Saham Merdeka Battery Materials Menguat Usai Umumkan Buyback Rp1,46 Triliun

Manajemen asosiasi menegaskan komitmennya agar perolehan total premi tahunan tetap bertahan di zona positif hingga akhir periode pelaporan.