Telkom (TLKM) Diproyeksi Raup Laba Bersih Rp 25,8 Triliun pada 2026
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diproyeksikan melanjutkan pemulihan laba bersih pada tahun ini. Lonjakan laba diperkirakan mencapai 45% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Telkom diperkirakan mencetak laba bersih sebesar Rp 25,8 triliun pada 2026.
>>> OJK Tetapkan Tujuh Calon Direksi BEI Periode 2026-2030
Pendapatan ditaksir mencapai Rp 150,8 triliun atau tumbuh 2,7% yoy.
Proyeksi tersebut sejalan dengan panduan kinerja yang diberikan manajemen Telkom.
Prospek positif emiten berkode saham TLKM itu didukung oleh berlanjutnya monetisasi layanan data, peningkatan kontribusi IndiHome, ARPU seluler yang tetap solid, ekspansi layanan broadband, dan program efisiensi yang terus berjalan.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut diperkirakan bakal mendorong pemulihan profitabilitas TLKM,” tulis Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas dalam risetnya, dikutip pada Kamis (18/6/2026).
Selain itu, pembelian kembali (buyback) saham TLKM dan penataan portofolio bisnis melalui divestasi akan mendukung penciptaan nilai bagi pemegang saham.
>>> Unpad Tembus Peringkat 496 Dunia dalam QS WUR 2027
Program buyback saham senilai Rp 4 triliun diperkirakan meningkatkan laba per saham (EPS). Sementara divestasi AdMedika memperkuat fokus TLKM pada bisnis digital inti.
Rekomendasi dan Target Harga Saham TLKM
Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli saham Telkom (TLKM) dengan target harga Rp 3.630.
Target tersebut berdasarkan pendekatan valuasi gabungan yang menggunakan metode EV/EBITDA dan discounted cash flow (DCF), serta mempertimbangkan prospek dan potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Target harga tersebut mencerminkan P/E forward sebesar 13,8 kali, EV/EBITDA sebesar 4,4 kali, dan PBV sebesar 2,2 kali.
Saat ini, saham TLKM diperdagangkan pada estimasi P/E sebesar 11,1 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis (peers) yang mencapai 14,25 kali, serta PBV sebesar 1,74 kali dibandingkan rata-rata peers yang sebesar 1,59 kali.
>>> KSPSI Perintahkan Pencabutan Ratusan Bendera di Hotel Sultan
Risiko utama yang perlu dicermati antara lain tekanan pada ARPU, persaingan industri yang makin ketat, belanja modal (capex) tinggi, perubahan teknologi yang cepat, serta regulasi dan intervensi pemerintah.
Update Terbaru
Menekraf: Optimalisasi Aset Tak Berwujud Perkuat Otonomi Strategis RI
Kamis / 18-06-2026, 15:35 WIB
Korban Hanania: Banyak Orang Tua Sakit karena Gagal Berangkat Umrah
Kamis / 18-06-2026, 15:35 WIB
TMGM Masuki Dunia Esports, Jalin Kemitraan Global dengan OG Esports
Kamis / 18-06-2026, 15:35 WIB
Kementerian ESDM Buka Peluang Revisi Harga Batu Bara DMO
Kamis / 18-06-2026, 15:35 WIB
Portugal Imbang 1-1 Lawan Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Kamis / 18-06-2026, 15:35 WIB
24 Miliar Data Sensitif Bocor di Server Elasticsearch Publik
Kamis / 18-06-2026, 15:33 WIB
PT Surveyor Indonesia Perkuat Keandalan Rantai Pasok Energi Nasional
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
Kelurahan Pulau Untung Jawa perkuat pengelolaan sampah dari sumber
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
BI Naikkan BI-Rate Jadi 5,75 Persen untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
InJourney Kembangkan Empat Bandara pada 2026, Termasuk Minangkabau
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Miliki Enam Mobil Mewah Senilai Rp24 Miliar
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
Prospek Pertumbuhan CMRY Menarik di Tengah Tekanan Bahan Baku
Kamis / 18-06-2026, 15:32 WIB
Jasad Bayi Terbungkus Plastik Hitam Ditemukan di TPU Susukan Ciracas
Kamis / 18-06-2026, 15:30 WIB
PGN Kembali Hadirkan Program Bedah Dapur GasKita 2026
Kamis / 18-06-2026, 15:30 WIB






