Prodia Diagnostic Line IPO, Target Dana Rp62,75 Miliar
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi memulai proses penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia.
Perusahaan menawarkan maksimal 522,9 juta lembar saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,75 Persen, Antisipasi Inflasi
Anak usaha PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) ini menetapkan kisaran harga penawaran Rp100 hingga Rp120 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi menghimpun dana segar maksimal Rp62,75 miliar.
Penggunaan Dana IPO
Manajemen mengalokasikan dana hasil IPO sebesar Rp35,66 miliar hingga Rp35,67 miliar untuk melunasi sebagian fasilitas kredit di PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.
Sekitar 28,92 persen dana akan digunakan untuk belanja modal, seperti pembelian mesin, perangkat lunak, kendaraan, peralatan kalibrasi, serta penambahan AHU Lab Biomolekuler.
Sisanya sebesar 8,51 persen dialokasikan sebagai modal kerja.
Program ESA dan Lock-Up
Perusahaan juga mengadakan program Employee Stock Allocation (ESA) dengan jumlah maksimal 36,6 juta lembar atau 7 persen dari total saham IPO untuk karyawan.
Saham ESA akan dikunci selama 12 bulan sejak distribusi.
Selain itu, pemegang saham eksisting diwajibkan menjalani lock-up selama delapan bulan setelah pernyataan pendaftaran efektif dari OJK.
>>> Elnusa Garap Proyek Seismik 3D Kandawulo di Selat Makassar
Kebijakan ini mengacu pada POJK Nomor 25 Tahun 2017 karena adanya kapitalisasi laba ditahan senilai Rp46 miliar.
Tiga pemegang saham utama PRDL saat ini adalah PT Prodia Utama (51 persen), PRDA (39 persen), dan diasys Diagnostic Systems GmbH asal Jerman (10 persen).
PT Sucor Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Kinerja Keuangan dan Jadwal IPO
Berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan PRDL tumbuh 26,79 persen menjadi Rp74,3 miliar.
Laba bersih melonjak hampir 70 persen menjadi Rp16,9 miliar, dengan total aset Rp194,4 miliar dan ekuitas Rp83 miliar.
Manajemen menyebut risiko utama meliputi ketergantungan pada belanja pemerintah di sektor kesehatan dan potensi likuiditas saham rendah.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen, Respons Ketidakpastian Global
Perkiraan tanggal efektif OJK jatuh pada 29 Juni 2026, masa penawaran 1-7 Juli 2026, dan pencatatan perdana di BEI pada 9 Juli 2026.
Update Terbaru
Program B50 Siap Diterapkan, Bahlil Optimistis Kurangi Impor Solar
Kamis / 18-06-2026, 16:09 WIB
Pemkot Sorong: Alokasi Minyak Tanah Subsidi Capai 1.455 Kl per Bulan
Kamis / 18-06-2026, 16:09 WIB
Kebakaran Semak di Miami Cemari Udara Saat Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Timnas Esports Indonesia Lolos ke Babak Utama Asian Games 2026
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Liverpool Sepakati Klausul Pelepasan Victor Munoz Senilai Rp750 Miliar
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Guru Siapkan Catatan Rapor Berisi Kata Motivasi Naik Kelas
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Samsat Buka Layanan Pemutihan Pajak Kendaraan di Jakarta Fair 2026
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Pemda Bali Tutup PRIME Skin Clinic karena Layanan Ilegal
Kamis / 18-06-2026, 16:08 WIB
Bahlil Lahadalia Cari Solusi Pasokan Batu Bara Medium untuk PLN
Kamis / 18-06-2026, 16:05 WIB
Pemerintah Pantau Fluktuasi Harga Cabai demi Jaga Rantai Pasok
Kamis / 18-06-2026, 16:05 WIB
Real Madrid Sepakat Rekrut Jose Mourinho, Incar Marcus Rashford
Kamis / 18-06-2026, 16:04 WIB
Ilmuwan China Berhasil Tembus Batas Fisika Reaktor Matahari Buatan
Kamis / 18-06-2026, 16:04 WIB
Bandung Barat Hapus Denda Pajak Daerah untuk Tingkatkan Pendapatan
Kamis / 18-06-2026, 16:04 WIB
Mantan Dirut PT MDI Divonis 5 Tahun Penjara Terbukti Korupsi TaniHub
Kamis / 18-06-2026, 16:04 WIB






