Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kerap menjadi sorotan publik. Setiap kali harga minyak dunia berfluktuasi, muncul pertanyaan apakah harga BBM dalam negeri ikut berubah.

Namun, penetapan harga BBM tidak hanya bergantung pada satu faktor.

>>> Prediction Market: Jembatan Analisis Data dan Kebijaksanaan Massa di Era Digital

Ada sejumlah komponen yang saling terkait, mulai dari harga minyak mentah global, harga produk BBM di pasar internasional, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kebijakan pemerintah.

Harga Minyak Dunia sebagai Faktor Utama

Faktor pertama yang memengaruhi harga BBM adalah harga minyak mentah dunia. Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Perubahan harga minyak global akan berdampak pada biaya penyediaan BBM di dalam negeri.

Harga minyak dunia sendiri dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan, produksi negara penghasil, kondisi geopolitik, dan stok global.

Kenaikan harga minyak dunia sempat terjadi pada Juni 2026 akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pertamina pun menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter, dan Pertamax Green dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Acuan Utama BBM Nonsubsidi: MOPS

Meski harga minyak mentah penting, harga BBM nonsubsidi tidak dihitung langsung dari harga minyak mentah.

Acuan utamanya adalah Mean of Platts Singapore (MOPS), yaitu rata-rata harga produk BBM di pasar Singapura.

Pemerintah menjelaskan bahwa harga patokan BBM dihitung dari rata-rata MOPS dalam periode tertentu, ditambah biaya distribusi dan margin.

Mekanisme ini juga digunakan dalam perhitungan subsidi energi.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada formula yang mempertimbangkan harga MOPS.