Formula yang dipakai mengacu pada rata-rata harga produk BBM di pasar internasional, terutama MOPS, dalam periode tertentu.

Selain itu, ada komponen lain seperti kurs rupiah, biaya distribusi, margin, dan pajak.

Karena itu, ada jeda waktu antara perubahan harga minyak dunia dengan penyesuaian harga BBM di SPBU.

Fenomena ini pernah terjadi pada 2025 ketika harga minyak global turun.

Kementerian ESDM mencatat ICP April 2025 turun menjadi 65,29 dollar AS per barel dari 71,11 dollar AS per barel pada Maret 2025.

Namun, harga BBM nonsubsidi tidak langsung turun karena harus mempertimbangkan komponen lain.

Mengapa Harga BBM Subsidi Berbeda?

Perbedaan mendasar antara BBM subsidi dan nonsubsidi terletak pada campur tangan pemerintah. Harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak selalu mengikuti pergerakan harga minyak dunia karena pemerintah memberikan subsidi.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, meskipun rata-rata ICP April 2026 mencapai 117,31 dollar AS per barel, harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan.

Rata-rata ICP sejak Januari 2026 masih di kisaran 80-81 dollar AS per barel.

Subsidi BBM dihitung berdasarkan selisih antara harga jual eceran dengan harga patokan yang dihitung dari MOPS, biaya distribusi, dan margin.

Dengan mekanisme ini, kenaikan biaya penyediaan BBM tidak selalu langsung diteruskan ke konsumen.

Dengan demikian, harga BBM di Indonesia merupakan hasil interaksi berbagai faktor: harga minyak dunia, MOPS, kurs rupiah, biaya distribusi, dan kebijakan subsidi.

>>> Kemdiktisaintek Kaji Perluasan Aturan Akomodasi Layak untuk Dosen Disabilitas

Karena banyaknya variabel, pergerakan harga di SPBU tidak selalu sejalan dengan perubahan harga minyak global.