Novel berjudul "Bersampul Batik" karya Mohammad Hairul mengangkat kisah cinta yang rumit di lingkungan pesantren. Cerita ini tidak menjatuhkan martabat lembaga pendidikan Islam tersebut.

Tokoh utama Aida adalah santriwati brilian dan cantik yang menjadi bintang di pesantren. Namun, di keluarganya ia hanya dianggap objek yang harus dibentuk oleh kakaknya, Halimah.

>>> Pemerintah Siapkan Uji Coba BBM Bioetanol E20, Target 2028

Kisah dimulai dengan alur mundur saat Aida sudah menikah dengan Gus Haikal, putra kiai. Ia dipaksa menikah oleh Halimah, meski hatinya tertambat pada Ustaz Mahiru Khair.

Mahiru adalah ustaz berlatar pendidikan sastra yang pernah menggantikan ustazah cuti di pesantren. Aida menyimpan rasa cintanya dengan mengoleksi buku-buku karya Mahiru yang dibungkus kain batik.

>>> Pelaku Pasar Tunggu Dua Pengumuman Penting MSCI Penentu Arah IHSG

Suatu hari, Gus Haikal memergoki Aida di perpustakaan pribadi sedang membungkus buku dengan batik. Ia sadar bahwa batik-batik itu bukan sekadar sampul, melainkan perban atas luka batin Aida.

Puncak cerita terjadi saat Gus Haikal justru memaksa Aida menghadiri peluncuran buku terbaru Mahiru. Bukan karena kalah, ia ingin istrinya berdamai dengan masa lalu.

>>> Faktor Penentu Harga BBM di Indonesia: Dari Minyak Dunia hingga Kurs Rupiah

Mohammad Hairul, guru dan pegiat literasi nasional, berhasil mengemas kisah ini tanpa menyudutkan pesantren. Novel ini memperkuat pandangan bahwa pesantren kaya akan mozaik cerita yang layak digali.