Perselisihan dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar.

Perbedaan karakter dan pengalaman hidup antara suami dan istri kerap memicu konflik, bahkan pada hubungan yang sehat sekalipun.

>>> Perbanas Prediksi BI Rate Tetap 5,5 Persen di RDG Hari Ini

Dilansir dari HaiBunda, sejumlah kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dan jarang disadari menjadi akar permasalahan. Data dari Psychology Today menjabarkan beberapa pemicu konflik emosional yang tersembunyi.

Rasa aman yang minim dalam hubungan menjadi faktor pertama. Saat seseorang merasa tidak didengar atau diabaikan, kekecewaan menumpuk dan meledak dalam bentuk perselisihan berulang.

Faktor berikutnya adalah perasaan tidak diterima apa adanya. Tuntutan dan kritik yang bertubi-tubi dari pasangan menciptakan perasaan tidak dihargai.

Pudarnya kehangatan dan apresiasi juga membuat salah satu pihak merasa tidak lagi bernilai. Hal ini diperparah jika salah satu pihak terlalu mengontrol atau membatasi kebebasan pasangannya.

Perasaan tidak mampu memenuhi ekspektasi atau kebutuhan keluarga memicu masalah baru. Kondisi ini membuat seseorang cenderung menarik diri dan menghindar saat harus menyelesaikan masalah.

Hambatan Praktis yang Sering Memicu Perdebatan

Di samping persoalan emosional, terdapat hambatan praktis yang sering memicu perdebatan. Berdasarkan data dari The Guardian, urusan ranjang atau perbedaan kebutuhan seksual menempati posisi sensitif.

Masalah domestik seperti standar kebersihan dan kerapian rumah yang berbeda juga memicu gesekan. Ketidaksepahaman ini dapat membesar jika kedua pihak enggan berkompromi.

>>> Pertamina Gandeng Subholding Downstream Dorong Pasar UMKM di Jakarta Fair

Perbedaan ingatan mengenai suatu peristiwa sering memperpanjang perdebatan. Masing-masing pihak merasa versinya yang paling akurat.

Kebiasaan saling mengoreksi aktivitas sepele, seperti cara memasak, juga menjadi pemicu. Sikap egois berupa mencari kambing hitam dan saling menyalahkan saat masalah muncul turut memperkeruh suasana.