Nilai tukar yen Jepang merosot hingga kisaran 160,6 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (18/6). Level ini merupakan yang terendah sejak Juli 2024.

Pelemahan tersebut menghapus seluruh penguatan yang sempat diraih setelah intervensi besar pemerintah pada 30 April lalu. Data ini dilansir dari Trading Economics.

>>> PSS Sleman Siapkan Anggaran Besar untuk Super League 2026/2027

Tekanan terhadap yen tetap tinggi setelah Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga acuan. Bank sentral AS juga memberi sinyal kuat akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2026.

Kondisi ini terjadi meski Bank Sentral Jepang telah memperketat kebijakan moneter. Pekan ini, mereka menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen.

>>> BAIC Indonesia Beri Diskon Hingga Rp 50 Juta Sepanjang Juni 2026

Kenaikan suku bunga tersebut awalnya bertujuan meredam inflasi akibat sektor energi yang terimbas konflik Timur Tengah. Namun, kekhawatiran terhadap perekonomian Jepang yang bergantung pada impor energi mulai mereda.

>>> Fadly Faisal Buka Suara soal Tudingan Pro-LGBT Usai Kenakan Kaus Bermotif Bra

Presiden AS Donald Trump menandatangani perjanjian sementara dengan Iran. Kesepakatan itu membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan ketegangan pasokan energi global.