Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg Technoz, harga emas di pasar spot ditutup pada level US$ 4.278,2 per troy ons.

>>> Portugal Ditahan Imbang RD Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Angka tersebut turun 1,23 persen dibandingkan hari sebelumnya, mengakhiri tren positif yang sempat mencatat total pertumbuhan 6,37 persen.

Aksi ambil untung atau profit taking dari para investor yang memanfaatkan harga tinggi menjadi pemicu utama koreksi ini.

Tekanan dari Kebijakan The Fed

Selain profit taking, pengumuman bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) turut menekan harga emas.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam rapat FOMC pertama yang dipimpin Gubernur Kevin Warsh.

Meski suku bunga tidak berubah, arah kebijakan moneter mengindikasikan kecenderungan pengetatan.

Sebanyak sembilan anggota FOMC memprediksi satu kali kenaikan suku bunga 25 basis poin tahun ini, enam anggota mendukung dua kali kenaikan, dan sembilan lainnya memperkirakan tidak ada perubahan.

Sikap hawkish ini muncul setelah The Fed merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 2,7 persen, sementara inflasi inti naik menjadi 3,3 persen.

>>> Cara Cek Penerima PIP 2026 Lewat pip.kemendikdasmen.go.id

Nicky Shiels, Head of Metals Strategy di MKS PAMP SA, mengatakan bahwa sikap The Fed yang hawkish membuat reli harga emas terbaru lebih bersifat rebound taktikal ketimbang pembalikan struktural.

Emas sebagai aset tanpa imbal hasil cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi.

Prospek Teknikal Harga Emas

Secara teknikal harian, harga emas masih berada di zona bearish dengan RSI 14 hari di angka 41, di bawah level 50 yang menandakan posisi bearish.

Sementara itu, Stochastic RSI 14 hari menyentuh angka 86, mengindikasikan kondisi jenuh beli (overbought).

Untuk pergerakan ke depan, harga emas berpeluang naik dengan target resisten terdekat di US$ 4.287 per troy ons (MA-5).

Jika mampu menembus pivot point US$ 4.330, harga berpotensi menguji MA-20 di US$ 4.381 dan target optimistis US$ 4.409 per troy ons.

>>> Bursa Asia Diprediksi Tertekan Setelah Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Namun, jika harga kembali turun, level support terdekat berada di US$ 4.265, dan bila ditembus berisiko menekan harga menuju US$ 4.253 per troy ons.