Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar hari ini.

Keputusan tersebut dinilai sebagai pilihan paling rasional di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih rentan, inflasi yang meningkat, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

>>> Harga XRP 18 Juni 2026 Turun 2,35 Persen ke 1,18 Dolar AS

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa prospek BI Rate, rupiah, dan kebijakan moneter Indonesia menjadi perhatian utama pelaku pasar menjelang pengumuman hasil RDG BI.

Menurut Josua, peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil.

Inflasi Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,08 persen, dan pasar masih menunggu sinyal kebijakan moneter dari The Fed.

Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka, meski bukan menjadi skenario utama.

BI baru saja menaikkan suku bunga secara agresif dalam RDG mingguan pada 9 Juni 2026.

Kondisi rupiah yang kembali bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS, yakni di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS, turut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga.

Josua menjelaskan bahwa salah satu alasan utama BI berpotensi mempertahankan suku bunga adalah karena dampak dari kenaikan sebelumnya masih membutuhkan waktu untuk bekerja secara optimal.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin pada Juni.

Kebijakan tersebut dinilai sudah cukup signifikan dalam waktu yang relatif singkat.

Menurutnya, apabila BI kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, pasar dapat menangkap dua pesan yang berbeda.