Di satu sisi, langkah tersebut menunjukkan ketegasan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun di sisi lain, pasar juga bisa menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih sangat serius dan belum terkendali.

Oleh karena itu, mempertahankan suku bunga sambil tetap bersikap waspada dinilai sebagai pilihan yang lebih seimbang.

Josua juga menilai, BI memiliki alasan kuat untuk menunggu hasil keputusan dan pernyataan The Fed.

Jika bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tanpa memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, tekanan terhadap dolar AS berpotensi mereda.

>>> Jorge Martin Hadapi Penalti dan Cedera di MotoGP Ceko

Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, dolar AS berpotensi kembali menguat dan memberikan tekanan baru terhadap rupiah.

Dalam kondisi tersebut, BI kemungkinan perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan.

Faktor lain yang mendukung keputusan mempertahankan suku bunga adalah meredanya harga minyak dunia setelah membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga minyak dinilai menguntungkan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih.

Hal ini dapat mengurangi kebutuhan devisa untuk impor energi, menekan inflasi, serta menjaga beban fiskal tetap terkendali.

Meski demikian, Josua menegaskan bahwa ruang untuk menurunkan suku bunga masih sangat terbatas.

Menurutnya, pemangkasan suku bunga saat kondisi rupiah masih rapuh dapat memberikan sinyal yang keliru kepada pasar dan berpotensi mengurangi daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Peluang pemangkasan suku bunga dalam RDG kali ini hampir tidak realistis.

Ia menilai, keputusan yang paling tepat bagi Bank Indonesia adalah mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen dengan komunikasi kebijakan yang tetap tegas.