Pasar keuangan Asia bersiap menghadapi tekanan setelah bursa saham dan obligasi Wall Street jatuh.

Sentimen negatif dipicu pernyataan tegas Federal Reserve (The Fed) mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan untuk meredam inflasi.

>>> Real Betis Siapkan Rencana Transfer Dani Ceballos Lewat Penjualan Giovani Lo Celso

Kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang, Australia, dan Korea Selatan mengindikasikan zona merah saat pembukaan perdagangan.

Indeks S&P 500 sebelumnya merosot 1,2% mendekati level terendah, sementara Nasdaq 100 terpangkas 1%.

Meski kontrak berjangka saham AS sempat menguat tipis di awal sesi Asia, harga minyak mentah AS langsung melemah pada perdagangan Kamis.

Aksi jual diproyeksikan menghantam pasar obligasi regional, mengikuti pergerakan surat utang pemerintah AS.

Pasar uang AS saat ini memperkirakan pengetatan moneter terjadi pada September dan diantisipasi penuh pada Oktober. Separuh anggota komite The Fed memproyeksikan kenaikan suku bunga tahun ini.

Imbal Hasil Obligasi Melonjak, Yen Tertekan

Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun melonjak 13 basis poin ke 4,18%.

Penguatan dolar AS turut memicu pelemahan mata uang regional, dengan yen Jepang jatuh ke level terendah terhadap dolar AS sejak Juli 2024.

Penurunan tajam yen meningkatkan risiko intervensi pasar oleh otoritas keuangan Jepang.

Gubernur The Fed Kevin Warsh menolak memberikan petunjuk langkah kebijakan berikutnya, namun menegaskan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga.

"Setengah anggota komite memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini, dan itu merupakan sinyal yang sangat kuat bagi pasar," kata Bob Michele, Chief Investment Officer di JPMorgan Asset Management.

>>> Hakim Tetapkan Zapatero Tersangka Penyelundupan Perhiasan

"Saya pikir mereka sedang bersiap untuk menaikkan suku bunga."