KISI Sekuritas memproyeksikan sektor perbankan domestik menjadi penerima manfaat terbesar apabila hasil MSCI Market Accessibility Review dan MSCI Market Classification Review memberikan sentimen positif bagi pasar modal Indonesia.

Pengumuman peninjauan akses pasar global tersebut dijadwalkan pada Kamis (18/6/2026) waktu Amerika Serikat dan menjadi salah satu agenda yang dinantikan pelaku pasar.

>>> Sistem Keselamatan Berlapis pada Mobil Listrik: Limp Mode hingga Proteksi Baterai

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu'tashim, menjelaskan bahwa likuiditas tinggi dan bobot besar dalam indeks menjadikan saham perbankan sebagai pilihan utama investor global saat meningkatkan eksposur ke pasar domestik.

Selain perbankan, aliran dana asing juga diperkirakan berpotensi mengalir ke sektor ritel yang dinilai merepresentasikan prospek jangka panjang ekonomi nasional, termasuk potensi bonus demografi.

"Tentu yang pertama dituju adalah sektor perbankan sebagai saham yang paling likuid," ujar Faris.

Kendati demikian, Faris menegaskan bahwa situasi saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa sektor perbankan akan langsung mengarahkan pergerakan IHSG setelah pengumuman MSCI dan FTSE.

Dua Skenario Negatif yang Diantisipasi

Terdapat dua skenario utama yang menjadi perhatian pasar, yakni perpanjangan status freeze atau pembekuan komposisi indeks saham Indonesia sejak awal 2026, serta kemungkinan penurunan kelas dari emerging market menjadi frontier market.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, mengatakan bahwa jika status freeze diperpanjang, dampaknya kemungkinan hanya menjadi sentimen negatif jangka pendek karena pasar sudah mem-price in isu ini sejak lama.

Peluang Indonesia turun kelas ke frontier market dinilai relatif kecil oleh KISI Sekuritas.

Namun, jika tekanan teknis akibat penurunan kelas tetap terjadi, sektor perbankan diprediksi menjadi sektor paling sensitif karena menjadi tujuan utama investasi asing.