Para pemimpin G7 meluncurkan rencana ambisius untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok tunggal seperti China dalam penyediaan mineral kritis.

Mineral tersebut penting bagi sektor digital dan energi hijau global.

>>> Antonio Rudiger Santai Hadapi Kritik Perilaku Agresif di Lapangan

Dalam deklarasi bersama yang didukung Australia sebagai mitra, G7 menyatakan keprihatinan terhadap praktik non-pasar dan pemaksaan ekonomi.

Mereka memperingatkan bahwa pembatasan ekspor sewenang-wenang melemahkan keamanan ekonomi internasional.

Untuk mengatasi kerentanan itu, G7 meluncurkan Aliansi Ketahanan dan Produksi Mineral Kritis.

Aliansi ini menargetkan pengurangan ketergantungan pada satu pemasok di luar blok untuk unsur tanah jarang dan magnet permanen menjadi kurang dari 60 persen pada 2030.

Target akhirnya mencapai 50 persen sesegera mungkin.

Para menteri juga ditugaskan menetapkan target pengurangan untuk mineral penting lainnya sebelum akhir tahun ini.

Strategi ini menandai pergeseran besar menuju pengamanan rantai pasok di antara negara-negara sekutu.

G7 menyambut 195 proyek investasi yang diumumkan sejak awal 2026, dengan nilai 64 miliar euro atau sekitar Rp1.319 triliun.

>>> Tretan Muslim Menangis Syuting Film, Singgung Kuota Haji Dikorupsi

Untuk melindungi industri dari volatilitas pasar, G7 mengeksplorasi jaring pengaman ekonomi seperti subsidi selisih harga, pengadaan bersama, dan harga minimum.

Para pemimpin juga berkomitmen membangun kerangka ketertelusuran baru guna memerangi perdagangan ilegal dan memastikan standar lingkungan serta ketenagakerjaan tinggi.

Inisiatif ini akan dimulai dengan litium dan nikel sebagai mineral percontohan, lalu diperluas ke lima mineral baru setiap tahun.

Pasar mineral kritis global saat ini terbelah antara negara penghasil bahan baku dan China yang mendominasi pemurnian.

China menguasai lebih dari 90 persen pemurnian unsur tanah jarang, 80 persen grafit baterai, serta sebagian besar pemrosesan litium dan kobalt.

Negara kaya sumber daya seperti Australia, Chili, Indonesia, dan Kongo memimpin pertambangan, tetapi masih bergantung pada infrastruktur China untuk pengolahan.

Amerika Serikat dan Kanada memiliki potensi tambang besar, namun belum memiliki kapasitas pemurnian domestik yang memadai.

>>> BKPRMI Apresiasi Dialog Langsung Pejabat Negara dengan Mahasiswa di Kampus

Uni Eropa juga masih sangat bergantung pada impor akibat regulasi lingkungan ketat dan biaya operasional tinggi.