Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz diperkirakan tidak akan segera pulih meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut.

Hal itu disampaikan oleh CEO Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, kepada Financial Times pada Selasa (16/6). Perusahaannya merupakan operator kapal tanker terbesar di dunia berdasarkan jumlah armada.

>>> Meksiko vs Korsel: Laga Sengit untuk Jadi Tim Pertama ke Fase Gugur

Tamura mengatakan banyak operator pelayaran akan tetap berhati-hati sebelum melanjutkan transit melalui selat tersebut. Mereka menunggu bukti nyata bahwa kesepakatan itu benar-benar menciptakan jalur yang aman.

"Yang diperlukan bukan hanya kesepakatan antarnegara, tetapi implementasi di lapangan yang tercermin dalam situasi nyata di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran merasa nyaman untuk kembali melintas," ujarnya.

Menurut Tamura, mengingat berbagai kemunduran dalam upaya pembukaan kembali jalur tersebut, proses pemulihan diperkirakan memakan waktu setidaknya beberapa pekan, bahkan hingga satu bulan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia.

Sebelum konflik, lebih dari seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) global diangkut melalui perairan ini, serta menjadi rute penting untuk biji-bijian dan barang konsumsi ke kawasan Teluk.

Lalu lintas harian di selat itu mencapai sekitar 135 kapal sebelum konflik, namun jumlahnya menurun drastis sejak itu.

Mitsui OSK Lines mengoperasikan lebih dari 900 kapal, termasuk lebih dari 200 kapal tanker.

Tamura mengatakan perusahaannya telah memindahkan empat kapal keluar dari kawasan Teluk sebelum kesepakatan, sementara sedikitnya tujuh kapal lainnya masih menunggu untuk melintasi Selat Hormuz.

>>> Portugal Ditahan Imbang Kongo 1-1, Ronaldo Jadi Sorotan