FTSE Russell Coret Sejumlah Saham Indonesia dari Indeks Global
FTSE Russell resmi mengeluarkan sejumlah saham asal Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dalam tinjauan berkala Juni 2026 yang diumumkan pada Kamis (18/6/2026).
Keputusan ini didorong oleh faktor konsentrasi kepemilikan saham serta ketidaksesuaian papan perdagangan, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
>>> Kenaikan Harga Energi Dorong Minat ke Kendaraan PHEV
Saham Large Cap Dicoret
Direktur Kebijakan Indeks untuk Kawasan Asia Pasifik FTSE Russell, Wanming Du, mengonfirmasi bahwa PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dicoret dari kategori Large Cap.
"Dian Swastatika Sentosa dikeluarkan karena tingginya konsentrasi kepemilikan saham," kata Wanming Du.
FTSE Russell juga tidak menyertakan saham baru dari Indonesia dalam tinjauan akhir bulan ini.
Dampak pada Mid Cap dan Micro Cap
Penghapusan juga terjadi pada kategori Mid Cap Index, yang berdampak pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
"GoTo Gojek Tokopedia dan Trimegah Bangun Persada dikeluarkan karena berpindah ke papan perdagangan yang tidak memenuhi syarat," ujar Wanming Du.
Pada segmen Micro Cap Index, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) juga dihapus.
FTSE Russell menetapkan bahwa Papan Pengembangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bukan merupakan segmen pasar yang memenuhi syarat untuk indeks GEIS.
>>> Raffi Ahmad Renovasi Apartemen Julia Perez Demi Bantu Sri Wulansih
Emiten Lain yang Terkena Dampak
Evaluasi Juni 2026 juga menyatakan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) gagal memenuhi batas minimum free float.
Sementara itu, PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dikeluarkan karena tidak lolos proses surveillance screening.
Potensi Dampak Pasar
Pencoretan massal ini memicu perhatian di pasar modal domestik karena potensi tekanan teknikal menjelang penyesuaian bobot indeks efektif pada 22 Juni 2026.
Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, memperkirakan adanya pergerakan portofolio dari pengelola dana pasif.
"Kami melihat masih ada satu gelombang teknis lagi karena rebalancing FTSE baru efektif 22 Juni, jadi ada potensi outflow walau tidak sebesar MSCI," kata Harry Su.
Investor disarankan mencermati saham defensif atau emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS dalam menghadapi volatilitas.
>>> Tim Piala Dunia Matangkan Persiapan Jelang Laga Fase Grup Kamis
Proses pemantauan dan penyesuaian FTSE Russell akan berlanjut hingga review indeks September 2026.
Update Terbaru
Kementerian ESDM Pastikan Mandatori Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026
Kamis / 18-06-2026, 09:40 WIB
KPK Dalami Distribusi Bonus di Kasus Dugaan Korupsi PPT ET
Kamis / 18-06-2026, 09:40 WIB
Pelatih Ghana Sebut Kemenangan 1-0 atas Panama Sangat Berharga
Kamis / 18-06-2026, 09:40 WIB
Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Total Hadiah Puluhan Juta
Kamis / 18-06-2026, 09:37 WIB
Harga Emas Antam 18 Juni 2026 Turun Rp 30.000 Jadi Rp 2.703.000 Per Gram
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Pemerintah Disarankan Salurkan BSU untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
4 Cara Mengatasi Cemburu agar Tidak Berujung Overthinking
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.853 per Dolar AS pada 18 Juni 2026
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Empat Langkah Kelola Rasa Cemburu agar Tidak Menjadi Overthinking
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Harga Emas Antam 18 Juni 2026 Turun Rp30.000 Jadi Rp2.703.000 Per Gram
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.853,6 per Dolar AS pada 18 Juni 2026
Kamis / 18-06-2026, 09:36 WIB
Kementerian ESDM Ajak Gaikindo Uji Coba Bensin Bioetanol E20
Kamis / 18-06-2026, 09:35 WIB
Ricardo Pepi Bersiap Debut di Piala Dunia 2026 Bersama Amerika Serikat
Kamis / 18-06-2026, 09:35 WIB
China Berlakukan Standar Keselamatan Baru Kendaraan Listrik Mulai Juli 2026
Kamis / 18-06-2026, 09:35 WIB






