Pelaku pasar modal kini mencermati peninjauan aksesibilitas pasar modal Indonesia oleh MSCI pada 18 Juni 2026 dan evaluasi indeks oleh FTSE Russell pada 22 Juni 2026.

Langkah ini menjadi perhatian serius setelah adanya fluktuasi dalam komposisi indeks global tersebut.

>>> Bank Digital Tahan Suku Bunga Deposito demi Jaga Margin

Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi dan tim mengungkapkan, dampak terbesar sebenarnya sudah terjadi pada evaluasi Februari dan Mei, ketika 7 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks standar MSCI.

Pihak Samuel Sekuritas Indonesia menilai bahwa evaluasi pada periode berikutnya akan menjadi tolok ukur bagi pemulihan posisi pasar modal Indonesia di mata investor global.

Evaluasi MSCI pada Agustus 2026 akan menjadi ujian pertama untuk melihat apakah normalisasi status Indonesia mulai tercermin dalam komposisi indeks, tutur Prasetya Gunadi.

>>> Waspadai Bahaya Konsumsi Telur Berlebihan bagi Kesehatan Pencernaan

Sejumlah saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (EMAS), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dinilai memiliki potensi untuk kembali masuk ke dalam indeks MSCI pada Agustus 2026.

Di sisi lain, kalangan analis menyarankan pelaku pasar untuk beralih ke saham perbankan besar yang berharga murah serta emiten yang berbasis pendapatan dolar AS, khususnya di sektor logam dan batu bara.

Kinerja empat bank besar, yaitu BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI tercatat masih solid selama periode Januari hingga April 2026 meskipun tantangan pasar pada sisa tahun ini diperkirakan semakin berat.

>>> Belanda vs Jepang Imbang 2-2 di Piala Dunia 2026

Sementara itu, komoditas emas batangan Antam mencatat penurunan harga kumulatif sebesar Rp27.000 selama periode 8 hingga 13 Juni 2026, meskipun harga buyback pada Sabtu, 13 Juni 2026 sempat naik Rp4.000 ke level Rp2.454.000 per gram.