Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memperlihatkan sinyal pemulihan setelah menyentuh titik terendah pada 8 Juni 2026 di level 5.324.

Posisi itu merupakan puncak koreksi tajam sejak awal tahun.

>>> MBMA Usulkan Perubahan Direksi Baru dalam RUPST Mendatang

Riset Henan Putihrai Sekuritas mencatat pasar saham Indonesia telah melewati fase penurunan terdalam yang berlangsung selama 4,6 bulan.

Setelah mencapai titik nadir, IHSG langsung melesat 10,9 persen ke posisi 5.902 dalam dua hari perdagangan.

Kemerosotan pasar kali ini mencapai 41,72 persen dari level tertinggi 9.134 pada 20 Januari 2026.

Secara historis, kejatuhan ini menjadi penurunan terdalam ketiga dalam sejarah modern pasar modal Indonesia, di bawah krisis 2008 dan sedikit melampaui koreksi era pandemi.

Siklus Pasar dan Keunikan Kebijakan Moneter

Henan membagi siklus pergerakan pasar menjadi empat tahap: Descend, Trough, Normalization, dan Recovery.

Pola dari tujuh siklus koreksi besar sejak 2000 menunjukkan IHSG selalu kembali ke level puncak sebelumnya dan mencetak rekor baru.

>>> Kylian Mbappe Cetak Dua Gol dan Lampaui Rekor Gol Timnas Prancis

Namun, siklus kali ini memiliki keunikan. Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga 50 basis poin di tengah koreksi untuk mengamankan nilai tukar rupiah.

Hal ini belum pernah terjadi dalam sejarah.

Oleh karena itu, penopang perbaikan pasar saat ini tidak lagi mengandalkan pelonggaran moneter, melainkan stabilitas rupiah dan masuknya kembali modal asing.

Investor kini diarahkan mencermati langkah pasar setelah masa koreksi berakhir.

Proyeksi teknikal untuk fase normalisasi dipatok pada level 7.229,42.

Angka itu membutuhkan pertumbuhan sekitar 18,2 persen dari posisi pembukaan 15 Juni 2026 di level 6.118,72.

>>> Bank Sentral Dunia Borong Emas untuk Amankan Cadangan Devisa

Investor menanti beberapa indikator penentu, termasuk keputusan MSCI pada 18 Juni 2026 dan pergerakan rupiah di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per dolar AS.