Polisi memastikan empat orang tewas akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) saat berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah.

Salah satu korban adalah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

>>> Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 17.728 per Dolar AS pada 17 Juni 2026

Kematian satu keluarga itu dipicu penggunaan tungku berbahan arang atau briket di dalam tenda yang tertutup rapat. Gas CO dari pembakaran kemudian terhirup para korban.

Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahaya fatal gas CO.

Karbon monoksida adalah gas asfiksian yang agresif merusak pasokan oksigen dalam darah tanpa gejala awal seperti batuk.

"Ketika gas CO terhirup, masuk ke saluran napas, lalu ke pembuluh darah di paru (alveoli). CO masuk ke darah dan bersaing dengan oksigen.

Kekuatan CO mengikat hemoglobin 300 kali lebih kuat daripada oksigen," jelasnya.

>>> Menag Ajak Umat Islam Transformasi Diri di Tahun Baru Hijriah

Paparan gas ini memiliki lima tahap keparahan berdasarkan kadar Carboxyhemoglobin (HbCO).

Kadar 5-10 persen memicu pusing, 20-30 persen menyebabkan mual dan napas cepat, 30-40 persen menyebabkan pingsan, 40-50 persen menyebabkan kejang dan koma, dan di atas 60 persen berakibat fatal.

Bahaya semakin besar jika korban sedang tidur, karena rasa kantuk pada fase awal sering tidak disadari dan langsung berlanjut ke koma.

"Orang tidak menyadari keracunan CO karena tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna. Kalau otak kekurangan oksigen, mulai ngantuk.

Kalau sudah 40-50 persen pingsan, koma, lalu meninggal," tutur Prof Agus.

>>> Urutan Pakai Sheet Mask yang Benar Menurut Dokter Jennifer Christy

Gas CO yang tidak berwarna dan tidak berbau membuat deteksi dini sangat sulit di ruang tertutup tanpa ventilasi.