Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara presisi selama 90 menit terhadap sasaran militer Iran di Pulau Tunb Besar, Selat Hormuz, pada Rabu pagi, 15 Juli 2026.

Operasi ini merupakan respons atas peringatan Washington sebelumnya terkait gangguan keamanan maritim regional.

>>> Kemenperin Godok Roadmap Baru Kendaraan Listrik, Ini Alasannya

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi dimulai pukul 06.00 Waktu Timur untuk menetralisir aset yang mengancam jalur pelayaran komersial.

Sasaran yang dihantam meliputi jaringan pertahanan pesisir serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di pulau tersebut.

"CENTCOM meluncurkan munisi presisi terhadap sistem pertahanan pesisir dan lokasi penyimpanan serta peluncuran rudal jelajah di Pulau Tunb Besar selama gelombang 90 menit," tulis CENTCOM di platform X.

Operasi udara dinyatakan selesai pada pukul 07.30 Waktu Timur, dan CENTCOM menegaskan bahwa serangan berhasil mengurangi kemampuan ofensif pasukan yang ditempatkan di sana.

"Serangan ini semakin menurunkan kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.

Eskalasi yang Memutus Gencatan Senjata Nuklir

Pemboman ini merupakan eskalasi tajam yang memutus gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya dirancang untuk memfasilitasi perundingan diplomatik mengenai program nuklir Teheran.

Sebelumnya, pasukan AS telah melancarkan serangan terpisah pada Selasa, sementara pasukan Iran melakukan operasi yang berdampak pada beberapa negara Teluk.

Presiden Donald Trump merinci strategi militer dalam wawancara televisi pada Selasa malam, mengindikasikan bahwa serangan akan terus berlanjut dan berpotensi meluas ke infrastruktur sipil vital jika kemajuan diplomatik mandek.

"Saya tidak bisa mengatakan itu kepada Anda karena jika saya melakukannya, itu akan bodoh," ujar Trump.