Investor yang ingin mengoleksi saham untuk jangka panjang perlu memahami kinerja internal perusahaan di pasar modal. Metode yang paling umum digunakan adalah analisis fundamental.

Pendekatan ini menitikberatkan pada evaluasi kondisi ekonomi, keuangan, dan faktor kualitatif untuk menentukan nilai intrinsik saham.

in1

>>> Bank Mandiri Optimistis Bisnis Kartu Kredit Tumbuh hingga Akhir 2026

Tujuannya adalah mendeteksi apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan nilai wajar atau masih undervalued.

Analisis fundamental mencakup dua aspek utama. Aspek kualitatif meliputi tata kelola perusahaan, model bisnis, keunggulan kompetitif, dan kualitas manajemen.

Aspek kuantitatif berasal dari laporan keuangan seperti neraca, laba rugi, dan arus kas.

Enam Rasio Keuangan Populer dalam Analisis

Investor sering menggunakan rasio keuangan untuk membandingkan perusahaan dalam sektor sejenis. Ada enam rasio populer yang menjadi acuan utama.

Pertama, Earnings Per Share (EPS) menunjukkan laba bersih per lembar saham. Rumusnya adalah laba bersih dibagi jumlah saham beredar.

Contoh: Perusahaan A dengan laba bersih Rp 1 triliun dan 5 miliar saham beredar menghasilkan EPS Rp 200 per saham.

Kedua, Price to Earnings Ratio (PER) membandingkan harga saham dengan EPS. Rumusnya harga saham dibagi EPS.

Jika harga saham Perusahaan A Rp 3.000 dan EPS Rp 200, maka PER-nya 15 kali.

Ketiga, Price to Book Value (PBV) membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham. Rumusnya harga saham dibagi nilai buku per saham.

Contoh: Perusahaan B dengan nilai buku Rp 1.000 per saham dan harga Rp 1.500 menghasilkan PBV 1,5 kali.

>>> Mandi Air Hangat Bantu Relaksasi dan Tingkatkan Kualitas Tidur

Keempat, Debt to Equity Ratio (DER) mengukur utang terhadap modal sendiri. Rumusnya total liabilitas dibagi total ekuitas.