Mengatur keuangan pribadi kerap menjadi tantangan di tengah kenaikan biaya hidup. Formula pembagian 50/30/20 hadir sebagai solusi efektif yang direkomendasikan para ahli perencana keuangan.

Strategi ini memberikan batasan tegas untuk kebutuhan esensial, keinginan, dan dana masa depan. Formula ini pertama kali digagas oleh Elizabeth Warren, profesor hukum dari Harvard.

in1

>>> IHSG Anjlok ke Level 6.172,3, Investor Asing Catat Net Sell Rp111,3 Miliar

Tujuannya membantu masyarakat menjaga stabilitas finansial jangka panjang. Pendekatan ini menyederhanakan pencatatan pengeluaran tanpa membuat pelakunya merasa tertekan.

Penerapan formula ini efektif melatih kedisiplinan agar terhindar dari perilaku konsumtif. Individu tetap bisa menikmati gaya hidup sambil mengamankan dana darurat dan kewajiban finansial.

Pembagian Tiga Pilar Utama

Sistem ini membagi seluruh penghasilan bersih ke dalam tiga pilar utama. Alokasi 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan serta investasi.

Kebutuhan pokok mencakup pengeluaran yang tidak dapat ditunda, seperti cicilan atau sewa rumah, bahan makanan, listrik, air, transportasi, dan asuransi kesehatan.

Porsi keinginan mendukung aspek gaya hidup atau hobi, seperti makan di restoran, layanan streaming, belanja barang hobi, hingga liburan.

Sisa 20 persen difokuskan untuk tabungan dan investasi, termasuk dana darurat, pelunasan utang berbunga tinggi, saham, reksa dana, atau emas.

Simulasi Berdasarkan UMP 2026

Penerapan metode ini sangat bergantung pada kedisiplinan pembagian dana. Berikut simulasi perhitungan bagi pekerja dengan asumsi Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026.

Bagi pekerja di DKI Jakarta dengan UMP 2026 sebesar Rp 5.729.876, alokasi kebutuhan pokok Rp 2.864.938 untuk hunian, makan, dan transportasi.

Pos keinginan di Jakarta mendapat jatah Rp 1.718.963 untuk hiburan. Bagian tabungan dan investasi memperoleh Rp 1.145.975 untuk membangun portofolio rutin.