Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia (KI) dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) untuk mendukung upaya konservasi masyarakat di bentang alam ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.

Kawasan seluas 159 hektare itu merupakan rumah bagi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang berstatus kritis menurut IUCN dengan estimasi populasi global sekitar 800 individu.

in1

>>> Apa Itu NIB dan Mengapa Konten Kreator Kini Perlu Memilikinya

Sundaland Program Director KI Jeri Imansyah menjelaskan, dokumen kesepakatan konservasi masyarakat yang disusun bersama SRI melibatkan penduduk desa setempat.

Fokus utama adalah pengembalian fungsi vegetasi dan stabilitas ekologis di Desa Aek Haminjon, yang menjadi penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok.

"Mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan.

Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru," kata Jeri.

Upaya restorasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di area terdampak bencana seluas 159 hektare di desa itu sudah dimulai pada 18 Juni lalu.

Model pengelolaan partisipatif dirancang mengintegrasikan target perlindungan habitat satwa liar sekaligus keberlanjutan sumber penghidupan pertanian.

Restorasi dilakukan dengan target penanaman 35 ribu hingga 49 ribu hektare komoditas utama seperti pohon kopi, karet, cokelat, dan durian.

>>> Pramono Imbau Massa Unjuk Rasa Jangan Rusak Fasilitas Umum di Jakarta

Dari pengamatan citra satelit, teridentifikasi deforestasi seluas kurang lebih 11 hektare di wilayah yang berbatasan langsung dengan desa akibat aktivitas manusia dan penggunaan lahan tidak berkelanjutan.

Penurunan tutupan vegetasi memicu ancaman serius berupa penurunan kualitas lingkungan, peningkatan laju erosi, serta pengikisan luasan habitat produktif bagi satwa liar dilindungi.