Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan masyarakat tentang risiko penggunaan paracetamol dan vitamin B complex untuk menyuburkan tanaman cabai.

Praktik ini sempat viral di media sosial dan dinilai tidak memiliki dasar ilmiah.

in1

>>> Evaluasi MSCI Pekan Depan Tentukan Status Pasar Saham Indonesia

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan belum ada kajian resmi di Indonesia yang merekomendasikan obat manusia tersebut untuk pertanian.

Ia menekankan bahwa penggunaan paracetamol dapat meninggalkan residu farmasi di lingkungan dan mengganggu ekosistem tanah.

Selain itu, praktik ini berpotensi menyebabkan pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti.

"Pendekatan budidaya yang mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) tetap menjadi pilihan yang paling aman bagi petani maupun konsumen," ujar Agung.

Fenomena ini dipicu oleh unggahan video seorang petani yang mengklaim penggunaan paracetamol dan vitamin B complex membuat kebun cabainya subur.

>>> Burung Perkici Muka Biru yang Langka Ditemukan Kembali di Pulau Buru

Dalam video tersebut, petani mengatakan, "Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss."

Menanggapi tren tersebut, Kementan melakukan penyuluhan lapangan tentang penggunaan pupuk dan pestisida berizin edar resmi.

Mereka juga berkoordinasi dengan dinas pertanian daerah untuk meningkatkan literasi digital petani agar tidak mudah mengikuti praktik yang belum terbukti secara ilmiah.

Penelitian internasional menunjukkan tanaman dapat menyerap paracetamol dalam kondisi laboratorium tertentu. Namun, hal itu bukan dasar rekomendasi budidaya resmi.

>>> BPJPH Perkuat Ekosistem Halal Lewat Kerja Sama Kampus dan Industri

Kementan mengimbau petani tetap mengikuti GAP demi keamanan pangan dan lingkungan.