Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai penguatan infrastruktur air, terutama jaringan irigasi, menjadi faktor penentu dalam menjaga produksi pangan nasional menghadapi potensi fenomena iklim El Nino.

Menurut dia, berbagai langkah yang disiapkan pemerintah seperti pompanisasi, embung, sumur dalam, optimasi lahan, dan cetak sawah dapat membantu mengurangi dampak kekeringan, namun tetap membutuhkan dukungan sistem irigasi yang andal.

in1

>>> Pembicaraan AS-Iran di Swiss Dibatalkan, MoU Sudah Ditandatangani

"Intervensi ini sebenarnya cukup efektif sebagai buffer untuk kemarau moderat hingga sedang, tapi kurang memadai secara mandiri untuk skenario El Nino kuat," kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan kekeringan pada dasarnya merupakan kondisi defisit air pada fase kritis pertumbuhan tanaman, sehingga ketersediaan air menjadi faktor paling menentukan keberhasilan produksi.

Eliza mengingatkan bahwa perbaikan irigasi perlu dilakukan tidak hanya pada jaringan tersier, tetapi juga pada bagian hulu.

Menurut dia, pendangkalan masih terjadi pada saluran irigasi primer, sekunder, bendung, hingga waduk akibat akumulasi sedimen yang dipengaruhi perubahan tata guna lahan dan terbatasnya bangunan pengendali sedimen.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat revitalisasi jaringan irigasi menghadapi tantangan karena membutuhkan biaya yang besar dan koordinasi lintas sektor yang berkelanjutan.

"Irigasi ini kunci, tapi sekarang sekitar 60 persen jaringan irigasi masih masuk dalam kategori rusak," ujarnya.

Sementara itu, rehabilitasi jaringan tersier yang selama ini banyak dilakukan pemerintah dinilai memiliki dampak terbatas apabila persoalan di hulu belum ditangani secara menyeluruh.

Namun demikian, Eliza menyebutkan bahwa pompanisasi, embung, dan sumur dalam tetap memiliki peran penting sebagai sumber air tambahan di daerah rawan kekeringan.