Menurut dia, pompa dapat membantu menyelamatkan tanaman pada fase penting seperti pembungaan dan pengisian biji.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan pompa juga meningkatkan biaya produksi karena membutuhkan bahan bakar atau listrik untuk operasional.

in1

Embung dan sumur dalam juga dinilai bermanfaat untuk diversifikasi sumber air, meski masih menghadapi tantangan berupa biaya operasional yang relatif tinggi, ketergantungan pada infrastruktur pendukung, serta skala pemanfaatan yang belum masif dibandingkan kebutuhan nasional.

>>> Kilau Nipis Luncurkan Sabun Cuci Piring Berbahan Tumbuhan di Jakarta Fair 2026

Di wilayah rawan kekeringan seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, keberadaan pompa, embung, dan sumur dalam dapat membantu menjaga produksi, tetapi belum dapat menggantikan fungsi irigasi permanen.

"Pompanisasi, embung, dan sumur dalam cukup efektif sebagai suplemen air di daerah kritis," ucapnya.

Selain itu, Eliza menilai program cetak sawah juga menghadapi tantangan karena lahan baru umumnya membutuhkan waktu satu hingga dua musim tanam untuk mencapai produktivitas yang stabil serta kerap menghadapi keterbatasan akses air.

Dengan demikian, investasi pada infrastruktur air dinilai memiliki dampak jangka panjang yang lebih besar karena mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani dibandingkan subsidi input yang cenderung bersifat jangka pendek.

"Tanpa air yang cukup dan tepat waktu, benih unggul, pupuk, atau pola tanam pun berpotensi tidak bekerja secara optimal," ungkapnya.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah memperkuat berbagai infrastruktur pertanian untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional, antara lain melalui pembangunan embung, pompanisasi, sumur dalam, irigasi perpompaan, optimalisasi lahan, hingga program cetak sawah baru.