Diet rendah karbohidrat yang populer justru dapat meningkatkan risiko kanker usus besar, menurut studi terbaru dari University of Toronto yang diterbitkan di jurnal Nature Microbiology.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Bhupesh Kumar Thakur dan Dr. Alberto Martin ini mengungkap hubungan antara pola makan rendah serat dengan bakteri penghasil racun di usus.

>>> Ahmad Khozinudin: Eksepsi Dokter Tifa Bukan Kemenangan Rakyat

Kombinasi Berbahaya: Diet Rendah Karbohidrat dan Bakteri E. coli

Tim peneliti memberi tiga jenis diet pada tikus percobaan: diet standar seimbang, diet ala Barat tinggi karbohidrat olahan dan daging, serta diet rendah karbohidrat.

Mereka kemudian memasukkan tiga jenis bakteri yang terkait dengan kanker kolorektal ke saluran pencernaan hewan: Bacteroides fragilis, Helicobacter hepaticus, dan E.

coli penghasil colibactin.

Hasilnya, hanya satu kombinasi yang memicu kanker kolorektal: diet rendah karbohidrat dengan E. coli penghasil colibactin.

Setelah 16 minggu, tikus pada kombinasi ini mengembangkan lebih banyak polip dan tumor dibandingkan kelompok lain.

Mekanisme Kekurangan Serat Merusak Pelindung Usus

Diet rendah karbohidrat sering menghilangkan buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan, sehingga asupan serat berkurang drastis.

Kekurangan serat menyebabkan peradangan di lapisan usus, mengubah kadar nitrat, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan E. coli penghasil colibactin.

>>> Cara Daftar SPMB Sekolah Nasional Terintegrasi 2026, Cek Syarat dan Lokasi Sekolahnya

Bakteri tersebut berkembang biak dan menghasilkan racun perusak DNA dalam konsentrasi lebih tinggi.

Lapisan lendir pelindung yang memisahkan bakteri dari dinding usus juga menipis, sehingga colibactin lebih mudah mencapai sel epitel.

Kerusakan paling parah terjadi pada tikus dengan mutasi gen perbaikan DNA, kondisi yang ditemukan pada sekitar 15% kasus kanker kolorektal manusia.

Menambahkan Serat Mengurangi Risiko

Para peneliti menguji apakah kerusakan bisa dicegah dengan menambahkan serat ke dalam diet rendah karbohidrat.

Hasilnya, penambahan serat mengurangi kerusakan DNA dan menurunkan pembentukan tumor pada tikus.

Meski temuan pada tikus perlu divalidasi melalui uji klinis pada manusia, hasil ini menekankan peran protektif serat makanan.

Menurut American Cancer Society, kanker kolorektal adalah penyebab kematian akibat kanker nomor dua di Amerika Serikat.

>>> Menkeu Purbaya: Penghentian MBG untuk Siswa Mampu Bisa Hemat Anggaran

Bagi mereka yang menjalani diet rendah karbohidrat, memastikan asupan serat yang cukup dari sayuran non-tepung atau suplemen mungkin penting untuk menjaga kesehatan usus jangka panjang.