Elon Musk akhirnya mengakui bahwa ia terlalu jauh terlibat dalam politik. Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara dengan The Economist yang terbit pada Kamis lalu.

Musk mengatakan bahwa ia "sedikit terlalu terlibat dalam politik" dan "terbawa suasana, terus terang saja" saat memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) di awal pemerintahan Trump kedua.

>>> Jadwal Pre-load Halo Campaign Evolved untuk PS5, PC, dan Xbox

Pengakuan ini muncul di tengah runtuhnya kekaisaran bisnis Musk.

SpaceX baru saja gagal meluncurkan roket Starship karena beberapa mesin tidak menyala, sementara Tesla terus kehilangan pelanggan akibat perilaku kontroversial bosnya.

Dampak DOGE yang Merusak

DOGE meninggalkan banyak luka.

Alih-alih memangkas pengeluaran, kelompok ini justru memecat puluhan ribu pegawai pemerintah, menghancurkan bantuan luar negeri dengan konsekuensi bencana, dan membocorkan data sensitif.

Kebijakan DOGE juga memicu gelombang protes, menggerogoti Administrasi Jaminan Sosial, dan merusak peran sains di Amerika Serikat.

Musk mengakui bahwa ia mendapat banyak kecaman atas tindakannya. "Dan saya mendapat banyak kritik karena ini, tentu saja," katanya dalam wawancara tersebut.

>>> Sapi Terlupakan 130 Tahun: Kisah Adaptasi di Pulau Amsterdam

Namun, The Economist menilai Musk tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan pengaruh politiknya.

Ia justru menggandakan tuduhan bahwa media salah menggambarkannya sebagai rasis, meskipun ia berulang kali membuat pernyataan rasis.

Musk bahkan berargumen bahwa para pemimpin ekstremis sayap kanan di Eropa hanya disalahpahami. The Economist dalam artikel pendampingnya menyebut pandangan politik miliarder itu "terang-terangan rasis."

Musk juga berjanji bahwa AI akan membuat uang tidak relevan dan menciptakan "zaman kelimpahan yang menakjubkan." Ia menyarankan pemerintah cukup memberikan cek kepada warga.

Mengingat tindakannya di DOGE tahun lalu, jelas bahwa Musk melihat sedikit peran pemerintah selain itu.

>>> Prabowo Tegaskan Pemerintah Tidak Antikritik, Bedakan dengan Caci Maki dan Fitnah

Kini, dengan kekaisarannya yang mulai runtuh, ia mencari kesempatan untuk mengatakan bahwa ia sudah move on dari membantu pemerintahan Trump membongkar pemerintahan.