Menghentikan konsumsi gula tambahan—jenis gula yang ditambahkan produsen ke makanan dan minuman selama proses produksi—menjadi salah satu resolusi kesehatan paling populer.

Alasannya jelas: mengurangi asupan gula berarti menurunkan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan masalah gigi.

>>> Kabinet Setujui Semicon 2.0 dengan Anggaran Rp 1,27 Lakh Crore untuk Ekosistem Semikonduktor

Namun, berhenti secara mendadak bisa memicu gejala penarikan diri yang tidak menyenangkan. Menghilangkan gula terlalu radikal juga memiliki risiko tersendiri.

Manfaat Berhenti Gula bagi Tubuh

Gula tambahan mengandung banyak kalori tetapi hampir tidak memiliki nutrisi. Menguranginya membantu menekan asupan kalori, langkah penting untuk menurunkan berat badan.

Kesehatan jantung juga meningkat. Minuman manis dapat menurunkan kolesterol HDL baik dan meningkatkan trigliserida, dua faktor risiko kardiovaskular utama.

Mengganti soda dengan air yang diberi irisan buah atau mentimun adalah alternatif sederhana.

Menurut American Diabetes Association, membatasi gula tambahan sangat penting karena menyebabkan lonjakan gula darah cepat dan berkontribusi pada kenaikan berat badan yang dapat memicu diabetes.

Gula darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko kerusakan mata, ginjal, dan saraf.

Kesehatan mulut pun berterima kasih. Gula tambahan memberi makan bakteri penyebab gigi berlubang dan erosi enamel.

Memilih segenggam buah beri daripada energy bar memberikan antioksidan, serat, mineral, dan vitamin.

Gejala Penarikan Diri Gula

Saat mengurangi gula, Anda mungkin merasa lelah, mudah marah, sakit kepala, atau mengidam gula yang kuat. Ini adalah bagian dari proses penarikan diri.

Bagi kebanyakan orang, gejala ini akan hilang seiring waktu.

>>> 5 Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia, Aman dan Terpercaya

Risiko Berhenti Gula Secara Total