Pandemi COVID-19 mendorong investasi besar-besaran di bidang infrastruktur kesehatan di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.

Indonesia membangun lebih dari 600 laboratorium pengujian COVID-19 antara 2020 dan 2021, memperluas layanan telemedicine, dan memperkenalkan platform digital untuk memantau penyakit.

>>> Kim Mathers, Mantan Istri Eminem, Dirawat di Rumah Sakit Usai Pingsan

Namun, peningkatan ini terkonsentrasi di daerah perkotaan, sementara banyak wilayah terpencil masih tertinggal.

Thailand mengambil pendekatan yang berbeda.

Selain mendirikan lebih dari 10.000 laboratorium COVID-19, negara itu mengembangkan sistem kesehatan terintegrasi yang memantau wabah penyakit di seluruh negeri, termasuk di kalangan pekerja migran.

Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi Thailand berhasil memperkuat kesiapsiagaan negara itu terhadap keadaan darurat kesehatan masyarakat di masa depan.

Indonesia seharusnya belajar dari hal ini untuk memperluas akses kesehatan masyarakat di seluruh nusantara.

Keberhasilan Thailand Mendeteksi dan Melacak Wabah

Thailand berhasil mendeteksi dan melacak gelombang baru COVID-19 pada pertengahan 2025, yang mencatat sekitar 374.000 kasus dan 84 kematian.

Negara itu telah menunjukkan kemampuannya selama gelombang pertama pada 2020.

Sebagai salah satu negara pertama yang mendeteksi COVID-19, Thailand berhasil menahan wabah dalam waktu kurang dari enam bulan.

Dari 3.195 infeksi yang dikonfirmasi, 3.072 pasien sembuh, menghasilkan tingkat kesembuhan 96% yang mengesankan.

Dua faktor menjelaskan keberhasilan ini.

Pertama, Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand dengan cepat membentuk Pusat Administrasi Situasi COVID-19 (CCSA), yang mengoordinasikan respons lintas kementerian dan memberikan komunikasi publik yang konsisten.

Kedua, kepatuhan publik terhadap tindakan kesehatan sangat tinggi, terutama dibandingkan dengan Indonesia.

Survei tahun 2020 oleh Imperial College London menemukan bahwa Thailand memiliki kepatuhan tertinggi terhadap langkah-langkah pencegahan di ASEAN, dengan 89-98% responden secara teratur memakai masker, mencuci tangan, dan mengikuti pedoman kesehatan.