Kombinasi tata kelola yang baik dan kepercayaan publik ini memperkuat sistem surveilans penyakit Thailand.

Sistem Pemantauan Penyakit Terintegrasi Thailand

Sistem pemantauan penyakit Thailand menghubungkan pemerintah daerah dan pusat melalui jaringan digital nasional.

Data kesehatan dikumpulkan secara real-time menggunakan perangkat sehari-hari seperti ponsel pintar dan komputer. Dua aplikasi seluler memainkan peran sentral.

>>> Stripe dan Advent Ajukan Tawaran Akuisisi PayPal Senilai Rp 53 Miliar

MorChana menggunakan GPS dan Bluetooth untuk mengidentifikasi kontak erat dan orang yang memasuki area berisiko tinggi, memungkinkan otoritas mendeteksi potensi infeksi dengan cepat.

Mohpromt mengelola catatan vaksinasi digital dan catatan kesehatan elektronik, memungkinkan rumah sakit mengakses rekam medis pasien secara instan.

Bersama-sama, aplikasi ini memiliki sekitar 36 juta pengguna, hampir setengah dari populasi Thailand, termasuk pekerja migran, dan terhubung ke sistem surveilans penyakit digital Thailand yang lebih luas.

Hasil tes dari rumah sakit dan klinik diunggah dalam hitungan detik, sementara warga dapat dengan mudah mengakses catatan kesehatan mereka sendiri.

Indonesia menggambarkan tantangan membangun sistem kesehatan terintegrasi di seluruh nusantara yang luas.

Selama pandemi, pemerintah Indonesia mengembangkan setidaknya tujuh aplikasi kesehatan, termasuk platform nasional SatuSehat, yang kini mengintegrasikan platform seperti e-HAC dan SIRANAP.

Namun, banyak pemerintah daerah juga membuat aplikasi mereka sendiri—seperti Pikobar di Jawa Barat, Sawarna di Bandung, dan PaPa Sulbar di Sulawesi Barat—yang seringkali tidak dapat terhubung dengan platform nasional.

Fragmentasi ini, ditambah dengan hambatan geografis dan akses internet yang tidak merata, membatasi surveilans penyakit secara nasional dan mengurangi efektivitas layanan kesehatan digital.

Thailand mengatasi tantangan ini dengan memperluas konektivitas digital.