Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran. Ia mengatakan serangan selanjutnya akan menargetkan sejumlah fasilitas nuklir di negara tersebut.

Trump memberikan ultimatum bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan akan menjadi sasaran pada fase terakhir, kecuali Teheran setuju bernegosiasi kembali dengan AS.

>>> Kyohei Yoshino Ungkap Alasan Antusias Gabung Persija: The Jakmania Jadi Daya Tarik Besar

Pemimpin Partai Republik itu menyatakan AS akan terus melancarkan serangan "sangat keras" terhadap Iran sampai ia memutuskan "itu sudah cukup".

Trump juga mengonfirmasi adanya pembicaraan dengan Iran pada Selasa dan mendesak Teheran mencapai kesepakatan.

Menanggapi ultimatum tersebut, Iran langsung mengaktifkan sistem pertahanan udara di Kota Bushehr. Langkah ini diambil untuk mematahkan potensi serangan AS ke fasilitas pembangkit tenaga nuklir negara itu.

Kantor berita Iran, Mehr News, melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran selatan telah diaktifkan.

PLTN Bushehr: Hasil Kerja Sama Rusia dan China

PLTN Bushehr merupakan hasil kerja sama Iran dengan Rusia.

Menurut Dr. Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique Prancis, program nuklir Iran pada awal 1990-an kekurangan dana dan kurang mendapat dukungan negara-negara Barat.

"Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat," kata Bichara dalam laman European Institute of Mediterranean.

Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama PLTN Bushehr. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahun 1999.

Sementara itu, perjanjian kerja sama dengan China ditandatangani lebih awal, pada tahun 1990, untuk "transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir."